Banyak yang Abai, Bahasa Indonesia Dinilai Lebih Rendah dari Bahasa Asing

karena dianggap lebih rendah, maka masih banyak yang abai terhadap bahasa yang menjadi alat pemersatu Bangsa Indonesia

Banyak yang Abai, Bahasa Indonesia Dinilai Lebih Rendah dari Bahasa Asing
Tribunjateng.com/Rifqi Gozali
Pembukaan penyuluhan Bahasa Indonesia bagi media massa di The Safin Hotel, Senin (20/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Bahasa Indonesia dinilai lebih rendah daripada bahasa asing. Sebab banyak masyarakat menganggap bahasa asing lebih unggul. Hal itu banyak ditemui di ruang publik. Misalnya nama toko, restoran, dan hotel.

Hal itu disampaikan oleh Koordinator Seksi Pembelajaran Balai Bahasa Jawa Tengah Sunarti dalam Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Media Massa di The Safin Hotel, Senin (20/8/2018).

Menurut Sunarti, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa penamaan pada suatu tempat di area umum lebih menarik menggunakan kosakata asing daripada menggunakan kosakata Bahasa Indonesia. Hal itulah yang kemudian membuat Bahasa Indonesia pebih rendah daripada bahasa asing, utamanya Bahasa Inggris.

Padahal, katanya, Bahasa Indonesia bagian dari bahasa yang banyak penuturnya di dunia. Namun, karena dianggap lebih rendah, maka masih banyak yang abai terhadap bahasa yang menjadi alat pemersatu Bangsa Indonesia.

"Padahal bahasa tidak sekadar alat komunikasi. Tapi, di dalamnya ada seperangkat yang harus diperhatikan. Masih banyak yang kurang tepat dalam penggunaan bahasa," kata Sunarti.

Dalam penyuluhan kali ini dihadiri oleh sejumlah wartawan yang bertugas di Pati. Selain itu, sejumlah guru Bahasa Indonesia pun hadir pada kesempatan ini.

Lebih lanjut Sunarti mengatakan, adanya penyuluhan ini diharapkan bisa memberi bekal dan meningkatkan kualitas awak media dalam menulis berita.

Hasilnya wartawan dalam menulis berita mampu memilih kosakata baku, serta menggunakan analogi bahasa yang tepat. Sebab tidak jarang awak media dalam menulis berita menggunakan kosakata dan analogi yang kurang tepat.

Sedangkan untu guru, ke depan mampu memberi materi Bahasa Indonesia tang sesuai kaidah. Sebab, tidak jarang saat ini ditemui bahasa yang kurang ideal, atau biasa disebut bahasa zaman now yang keluar dari kaidah kebahasaan.

"Media merupakan mitra kami dalam mengenalkan Bahasa Indonesia. Maka kami berharap produk Bahasa Indonesia media massa mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa bahasa itu pebting, terutama Bahasa Indonesia ," kata dia. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved