Meriahnya Perang Obor di Jepara dan Ramuan untuk Kulit Tahan Bara Api

Meriahnya Perang Obor di Jepara dan Ramuan untuk Kulit Tahan Bara Api di Tahunan, Jepara, Senin (20/8/2018) malam

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/RIFQI GOZALI
Meriahnya Perang Obor di Jepara dan Ramuan untuk Kulit Tahan Bara Api di Tahunan, Jepara, Senin (20/8/2018) malam 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Ribuan orang berbaris di sepanjang Jalan Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Senin (20/8/2018) malam. Mereka menunggu momen saat pasukan obor saling serang.

Suasana menjadi riuh saat api mulai disulut pada obor yang terbuat dari pelepah daun kelapa dan daun pisang. Pasukan obor terbagi dalam dua kubu. Mereka saling hantam. Saling memukulkan obor pada lawan.

Sebelum perang dimulai, prosesi bermula dari ritual pelepasan dari kediaman Kepala Desa Tegalsambi. Rombongan pasukan obor diawali oleh Petinggi Desa Tegalsambi.

Sesampainya di perempatan desa, sesepuh berdoa. Sampai akhirnya satu obor disulut.
Suara gemuruh penonton menggema saat api mulai membara. Pasukan obor yang terdiri dari puluhan orang laki-laki terbagi dalam dua kelompok.

Meriahnya Perang Obor di Jepara dan Ramuan untuk Kulit Tahan Bara Api di  Tahunan, Jepara, Senin (20/8/2018) malam
Meriahnya Perang Obor di Jepara dan Ramuan untuk Kulit Tahan Bara Api di Tahunan, Jepara, Senin (20/8/2018) malam (TRIBUNJATENG/RIFQI GOZALI)

Masing-masing mulai menyalakan obor. Setelah tersulut, mereka mendatangi lawan yang sudah membawa obor. Sorak sorai penonton menggema saat mereka saling pukul pakai obor. Seketika percikan api membumbung dan beterbangan. Di tengah pasukan saling pukul, suara histeris ribuan penonton menambah semarak prosesi perang.

Tradisi perang obor ini berbeda dengan perang pada umumnya. Meski saling serang namun tak ada dendam antar-pasukan obor. Para peserta merupakan warga asli Desa Tegalsambi. Ratusan obor yang telah disedikan habis dalam waktu kurang dari satu jam. Hal itu merupakan pertanda perang obor telah usai.

Setelah perang usai, masing-masing peserta perang melumuri tubuh menggunakan ramuan berupa air kelapa yang telah dicampur berbagai kembang. Ramuan itu dipercaya bisa menyembuhkan luka bakar. Kembang yang dicampur pada ramuan itu diambil oleh seorang Petinggi Desa Tegalsambi setiap malam Jumat sebelum tradisi digelar. Saat meramu, tak lupa doa pun dipanjatkan.

Bahkan pengunjung yang datang pun ikut melumuri kulit dengan ramuan tersebut. Sebab, sejumlah pengunjung juga ikut terkena imbas percikan api. Ada yang sekadar merah kulitnya, pun ada yang sampai melepuh.

Seorang peserta perang obor Muji Harto mengaku senang meski harus bermandikan bara api. Untuk menghindari luka bakar, dia mengenakan pakaian panjang. Di kepalanya terdapat caping untuk mengantisipasi hantaman obor yang membara.

"Saya sudah sejak kecil pasti ikut jadi peserya perang obor. Tidak kapok padahal panasnya minta ampun saat dipukul oleh lawan pakai obor," ujar lekaki berusia 42 tahun.
Sedang peserta perang lainnya, Andi Fahrudin (23), mengatakan hal senada. Dia tidak ingin tradisi ini hilang tergerus zaman. Sebab tradisi unik ini tidak hisa ditemui di sembarang tempat.

"Semua berjalan lancar dan tetap berjalan dan lebih meriah," katanya.

Tradisi unik ini sudah turun temurun sejak nenek moyang. Dari keterangan Petinggi Tegalsambi Agus Santosa, semula perang obor ini berawal saat di desa tersebut terdapat seorang kaya raya bernama Kiai Babadan.

Dia memiliki banyak hewan ternak yang digembala oleh Kiai Gemblong. Namun di tengah kerja sama antar-keduanya, terjadi salah paham saat hewan ternak mulai jatuh sakit dan mati. Kontan Kiai Babadan dan Kiai Gemblong naik pitam. Mereka saling serang.

Berhubung saat itu belum ada listrik, mereka menggunakan obor untuk menyerang. Di tengah pertikaian, rupanya hewan ternak yang semula sakit mendadak berlarian dan sehat. Akhirnya Kiai Babadan berpesan agar perang obor harus dilestarikan oleh anak cucu.

"Peang obor ini bentuk rasa syukur masyarakat desa dan meminta kepada Tuhan agar dijauhkan dari mara bahaya," kata Agus. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved