HUT Kemerdekaan RI

Kasdi Tak Mau Kesenian Rodat di Bawen Punah Ditelan Zaman

Ada pemandangan menarik dalam Kirab Budaya Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2018 di Desa Kandangan Kecamatan Bawen

Kasdi Tak Mau Kesenian Rodat di Bawen Punah Ditelan Zaman
tribunjateng/deni
Kesenian Rodat tampil di Kirab Budaya Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2018 di Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, Minggu (26/8/2018) s 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Ada pemandangan menarik dalam Kirab Budaya Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2018 di Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, Minggu (26/8/2018) siang tadi.

Di hadapan Kepala Desa Kandangan Paryanto, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Kandangan Isroatun, maupun para tamu undangan yang berada di panggung kehormatan, sekitar 24 laki-laki dewasa --notabene-- lanjut usia, menari mengikuti alunan lagu rohani --Islam--.

Puluhan laki-laki tersebut mengenakan kacamata hitam, kemeja lengan panjang warna putih, celana spot pendek warna hitam, bersepatu cat dan berkaos kaki panjang warna hitam, serta berpeci (kopiah) sedang menari Tarian Rodat.

Oleh warga Dusun Geneng Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, tarian tersebut dipersembahkan khusus dalam karnaval memperingati HUT ke 73 Republik Indonesia. Dimana tarian tradisional itu seakan semakin punah ditelan perkembangan zaman.

Sekadar informasi, Rodat merupakan kesenian daerah pedesaan yang sebenarnya cukup populer kala itu di Kabupaten Semarang. Namun, kesenian yang menyimpan banyak pesan moral itu kini kian terkikis.

Kata Rodat berasal dari kata serapan bahasa Arab yang berarti irodah atau berkehendak. Kemudian diimplementasikan dalam kesenian tradisional berupa tari. Pada kesenian itu para penari mengikuti alunan syair dan musik rebana.

“Bahkan, itu sering ditampilkan di saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw maupun hari-hari besar Islam lainnya. Dimana pada syairnya, sesungguhnya berasal dari Kitab Al Berzanji dan isi dari shalawatnya adalah bacaan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad Saw,” kata Kasdi (54).

Berbincang dengan Tribunjateng, Minggu (26/8/2018), pengurus Kelompok Kesenian Al Barokah Dusun Geneng Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang itu pun menandaskan, di daerah pedesaan bahkan saat dirinya masih kecil, juga sering menjumpainya di saat acara nyadran jelang Ramadan.

“Awal munculnya kapan, kami tidak tahu. Sebab sejak zaman kakek saya sudah ada. Tetapi beberapa tahun terakhir ini semakin jarang kami jumpai. Karena itu, pada 3 bulan lalu, kelompok kami coba sengkuyung untuk kembali menghidupkan kesenian Rodat,” katanya.

Halaman
12
Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved