Ngopi Pagi

FOKUS: Konsekuensi dan Prestasi

Hingga 26 Agustus cabang olahraga Bulutangkis memang baru mempersembahkan satu perak dan satu perunggu.

FOKUS: Konsekuensi dan Prestasi
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM - Hingga 26 Agustus cabang olahraga Bulutangkis memang baru mempersembahkan satu perak dan satu perunggu. Yaitu dari beregu putra (perak) dan beregu putri (perunggu). Namun masih ada beberapa harapan untuk mempersembahkan medali emas dari cabang populer ini.

Hari ini (27/8) pebulutangkis tunggal putra akan tanding di babak semifinal, yaitu Jonatan Christie melawan pebulutangkis Jepang Shimoto Kenta.

Demikian juga Ginting Anthony Sinisuka akan ditantang pebulutangkis China Taipei Chou Tiengchen. Otomatis tunggal putra Indonesia punya dua wakil di semifinal.

Semifinal bulutangkis ganda putra, Indonesia juga punya dua pasang wakil. Yaitu Gideon/Sukamulyo melawan Lee J/Lee Y dari China Taipei, dan pasangan bulutangkis putra Indonesia Alfian/Ardianto melawan Li J/Liu Y dari China.

Minggu (hari ke 8) Indonesia mendapat tambahan dua emas Asian Games 2018. Rifki Ardiansyah Arrosyid cabang karate mempersembahkan medali emas dari nomor kumite -60 kg putra. Dari cabang jetski, Aqsa Sutan Aswar mempersembahkan medali emas ke-12 bagi Indonesia.

Sedangkan tiga medali perunggu, dipersembahkan dari tim putra dari cabang kano, Amri Rusdana (pencak silat), dan Cokorda Istri Agung Sastya Rani (karate). Sementara kontingan Indonesia mengoleksi 12 emas, 12 perak dan 19 medali perunggu. Ini capaian hebat Indonesia di ajang yang diikuti 45 negara, 465 event dari 40 cabang olahraga dan 938 atlet.

Konsekuensi dari prestasi. Tiap atlet peraih medali emas akan diganjar hadiah Rp 1,5 miliar, ditambah bonus atau sponsor lainnya. Pokoknya Indonesia harus masuk 10 besar. Target itu akan terpenuhi jika Indonesia minimal meraih 20 medali emas. Saat ini Indonesia di peringkat ke lima dengan mengoleksi 12 emas. Negara terdekat di bawah kita adalah Korea Utara raih 11 emas dan Thailand 9 medali emas.

Bagaimana dengan olahraga terpoluler sepakbola. Menyedihkan karena selaku tuan rumah, Timnas U-23 putra gagal melaju ke babak selanjutnya. Dalam duel menegangkan babak 16 besar Timnas U-23 Indonesia dikalahkan oleh Uni Emirat Arab (UEA) melalui drama adu penalti.

Padahal target yang disepakati, Indonesia harus sampai di babak semifinal. Karena gagal maka posisi Luis Milla sebagai pelatih Timnas U-23 terancam. Hingga kini PSSI belum memperpanjang kontrak atau mencopotnya. Mengingat pada November 2018 tim Merah Putih akan berlaga di Piala AFF 2018.

Berkaca pada PSIS Semarang, kegagalan mencapai target yang kemudian diikuti dengan pencopotan pelatih, bukan suatu jaminan kesuksesan menunggu di depan. Dulu pelatih Subangkit dicopot kemudian PSIS mengambil Vincenzo Annese. Di Liga 1, PSIS menjadi tim promosi. Namun target bebas dari zona degradasi, tidak terpenuhi oleh Vincenzo. PSIS pun bertindak cepat mencopot Vincenzo. Kemudian PSIS menunjuk Jafri Sastra, mantan pelatih Persis Solo. Itulah konsekuensi.

Bagaimana dengan konsekuensi jabatan Menteri? Tentu harus bersih dari korupsi, dan punya prestasi yang bisa dibanggakan sebagai wujud pengabdian kepada negari. Yang terbaru adalah Mensos Idrus Marham. Dia jadi tersangka dugaan suap proyek PLTU Riau-1.

Idrus diduga turut menerima aliran duit terkait proyek tersebut. Penetapan tersangka Idrus Marham merupakan pengembangan dari penyidikan perkara penerimaan suap anggota Komisi VII DPR Fraksi Partai Golkar, Eni Maulani Saragih dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited. Konsekuensi gagal meraih prestasi, apalagi malah korupsi, ya secepatnya undur diri. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved