DLH Minta RPH Ambarawa Tidak Beroperasi Sementara

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang pada Kamis (30/8/2018) ini telah mengeluarkan surat rekomendasi

DLH Minta RPH Ambarawa Tidak Beroperasi Sementara
TRIBUN JATENG/DENI SETIAWAN
Sudah Lama Warga Kupang Kidul Keluhkan Hasil Limbah RPH Ambarawa

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang pada Kamis (30/8/2018) ini telah mengeluarkan surat rekomendasi sekaligus himbauan kepada pimpinan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Semarang.

Surat yang ditandatangani Kepala DLH Kabupaten Semarang Nurhadi Subroto itu terkait temuan sekaligus keluhan warga Kelurahan Kupang Kidul Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang terhadap Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ambarawa.

 Sesuai yang telah diberitakan Tribunjateng.com, Rabu (29/8/2018) kemarin, limbah-limbah dari aktivitas di RPH yang berada di belakang Pasar Projo Ambarawa itu diduga kuat telah menimbulkan pencemaran terhadap Kali Pentung.

Setelah dicek secara langsung, limbah yang masuk ke aliran sungai itu dikarenakan IPAL RPH Ambarawa tidak berfungsi optimal.

Ada bagian konstruksi IPAL yang dibangun pada 2012 itu pun jebol. Akibatnya, tidak bisa menampung limbah --membludak-- dan masuk ke sungai.

“Kemarin, Rabu (29/8/2018) kami telah cek ke lokasi dan hasil koordinasi, kami rekomendasikan atau meminta agar aktivitas di RPH Ambarawa itu untuk sementara ditutup. Tidak beroperasi terlebih dahulu,” ucap Kasi Pembinaan dan Pengawasan DLH Kabupaten Semarang Jermia Jalu Wicaksono.

Kepada Tribunjateng.com, Kamis (30/8/2018), Jermia mengutarakan, RPH yang dibangun pada 1913 tersebut baru diizinkan beroperasi kembali apabila telah melengkapi seluruh dokumen lingkungan dan IPAL.

“Intinya, IPAL yang ada di sana harus ditangani dahulu. Diperbaiki sampai tidak ada lagi limbah yang masuk ke sungai. Sampai kapan itu diperbolehkan kembali beroperasi, prinsip sampai semua syarat terpenuhi oleh dinas setempat,” tandasnya.

Dia mengutarakan, sesuai prosedural, ketika pada IPAL itu sudah ada bak kualifikasi dijadikan satu. Kemudian ada sedimentasi.

Dan secara berkala pula, sedimentasi yang ada di bak tersebut dibuang (dibersihkan).

“Hasil sedimentasi dari limbah itu pun sebenarnya dapat dimanfaatkan lagi sebagai pupuk kompos. Apabila itu bisa dilakukan secara rutin dan terjadwal, limbah yang masuk ke IPAL tidak akan sampai meluber. Kalau ada kerusakan, bakal bisa segera ditangani,” tukas Jermia.

 Namun melihat permasalahan di sana, lanjutnya, diduga ada keteledoran dari pihak pengelola RPH Ambarawa yang tidak mengecek secara rutin atau berkala terhadap keberadaan IPAL.

Terlebih, kondisi tersebut ternyata sudah cukup lama. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved