Breaking News:

Sukono Panggul Hasil Panen Sejauh 17 Kilometer, Lewati Bebatuan dan Tanjakan Curam

Jalan yang dilalui beberapa petani tersebut bukan jalan mulus seperti di perkotaan, melainkan tanah merah disertai bebatuan dan tanjakan-tanjakan

Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Budi Susanto
Kondisi jalan yang dilalui para petani Desa Durensari Kecamatan Reban Kabupaten Batang, Jumat (31/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Beberapa orang terlihat memanggul hasil panen dari ladang yang ditempatkan ke dalam karung putih, mereka bahu-membahu dan beriingan melangkah menyusuri jalan di wilayah Desa Durensari Kecamatan Bandar Kabupaten Batang, Jumat (31/8/2018).

Jalan yang dilalui beberapa petani tersebut bukan jalan mulus seperti di perkotaan, melainkan tanah merah disertai bebatuan dan tanjakan-tanjakan curam menghadang langkah-langkah para petani itu.

Beruntung, beberapa anggota TNI yang tengah mengerjakan pengerukan tanah membantu rombongan pembawa hasil panen yang mulai kelelahan tersebut.

Sukono (51) satu di antara petani yang membawa hasil panen mengungkapkan, mereka harus berjalan sejauh 17 kilometer jika ingin melewati jalan bagus untuk membawa hasil panen dan kayu untuk memasak.

"Kalau lewat jalan yang sudah bagus bisa memutar 17 kilometer. Maka dari itu kami melintasi jalan tembus ini, karena memangkas waktu," katanya.

Adapun jika petani membayar tenaga untuk membawa hasil panen ataupun kayu bakar, mereka harus mengeluarkan kocek Rp 12 ribu perkarungnya.

"Hasil panen tidak seberapa, kami tidak akan kuat membayar. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja kami kuwalahan apalagi membayar tenaga," ujarnya.

Sembari melepas lelah, Sukono menuturkan, jika kemarau jalan hanya berdebu. Namun kondisi akan semakin parah jika musim hujan karena banyak tanjakam sepanjang jalan yang berlumpur.

"Bertahun-tahun kami petani di Desa Durensari memanggul melewati jalan ini. Ada juga yang menggunkan kendaraan tapi tetap saja kesusahan mengingat medan seperti ini," terangnya.

Adapun, Sireng Kepala Desa Durensari saat ditemui Tribunjateng.com mengatakan. Tidak hanya petani namun perangkat desa juga mengalami hal serupa, karena jika ada pertemuan antar desa kami harus memutar sejauh 17 kilometer.

"Jalan tercepat menuju Kecamatan Pecalungan dan Subah, sejak desa ini ada jalan ini belum pernah dijamah oleh pembangunan. Padahal masyarakat sangat mengandalkan akses jalan untuk beraktifitas sehari-hari, baik untuk ke ladang ataupun mengambil kayu," jelasnya.

Sireng sangat berharap, ada pihak yang mau membantu untuk memperbaiki jalan tersebut agar perekonomian warga meningkat.

"Kami sudah mengajukan ke pihak Kodim 0736 untuk memperbaiki jalan ini. Karena tak jarang para petani harus berjalan hingga 17 kilometer hanya untuk membawa hasil panen ke rumah. Kalau jalan sepanjang 2,5 kilometer ini baik akan memangkas waktu," timpalnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved