Airport Corner

Asperindo Desak AP 1 Bandara Ahmad Yani segera Bangun Terminal Cargo

Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia Desak AP 1 Bandara Ahmad Yani segera Bangun Terminal Cargo

Asperindo Desak AP 1 Bandara Ahmad Yani segera Bangun Terminal Cargo
tribunjateng/desta leila kartika
Ketua Asperindo Jateng, Tony Winarno mengatakan, ketika Bandara Ahmad Yani yang baru selesai dibangun, dan dilaunching oleh Presiden Joko Widodo, sebenarnya yang selesai adalah baru Terminal penumpang saja. 

Menurut Tony pada saat itu pihak Angkasa Pura 1 Bandara Ahmad Yani Semarang menjanjikan Terminal Cargo akan selesai sekitar bulan Agustus atau September 2018. Tapi beberapa waktu lalu saat meeting pihak Angkasa Pura 1 menyampaikan kontrak baru selesai pertengahan tahun depan.

Selain itu dari 5 truck yang dijanjikan hanya 2 truck yang jalan, lalu dari transit time sesuai yang dijanjikan barang masuk 2,5 jam dan barang keluar 2 jam. Namun pada kenyataannya tetap saja membutuhkan waktu 4-5 jam untuk terbang.

Sehingga berdampak waktu tempuh ke Semarang secara Internasional yaitu Jakarta plus 1 bukan plus 0 lagi. Artinya kerugian di eksportir yang mana pemerintah sedang menggalakkan E Commerce.

"Tindakan yang tidak sesuai jadwal ini menurut saya sangat merugikan para pengguna jasa sekaligus menghambat laju pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah khususnya. Pada intinya kami mendesak Angkasa Pura 1 Bandara Ahmad Yani Semarang untuk segera membangun Terminal Cargo. Padahal cargo itu membayar gudangnya untuk yang Internasional dua kali lipat dari domestik, misal sehari 100 ton saja bisa sekitar Rp 600-700 jutaan perhari," ungkapnya.

Sesuai penuturan Tony pihaknya adalah Asosiasi perusahaan jasa pengiriman Ekspres, kalau seperti ini terus bisa-bisa seperti odong-odong dan ekspresnya meninggal dunia. Selama ini kalau untuk area Jabodetabek tidak mengalami masalah, tapi kalau yang luar pulau pasti akan delay.

"Bandar udara saat ini menjadi kebutuhan utama seperti contoh ekspor sarang burung dari Jateng per tahun Rp 1,7 triliun dan saat ini terganggu karena sudah Jakarta plus 1. Harusnya besok sudah sampai Hongkong tapi besok baru sampai Jakarta," tandasnya. (*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved