FOCUS

TAJUK: Cebong, Kampret dan Atlet Korea

Kameramennya pintar nyari gambar, tetapi kita harus fokus mendukung Indonesia," lanjutnya mengomentari para pemain Korsel

TAJUK: Cebong, Kampret dan Atlet Korea
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Suharno Wartawan Tribun Jateng 

Tajuk Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Suharno

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Kita seperti sedang nonton drama Korea, Bung," kata Valentino Simanjuntak saat mengomentari jalannya pertandingan bola voli putri antara Indonesia melawan Korea Selatan di ajang Asian Games akhir Agustus ini.

"Kameramennya pintar nyari gambar, tetapi kita harus fokus mendukung Indonesia," lanjutnya mengomentari para pemain Korsel yang lebih banyak disorot.

Sejumlah orang yang saat itu sedang nonton bareng laga tersebut juga turut berkomentar. "Kalau di Indonesia, pemain Korea udah pada jadi artis," celetuk seorang pria. "Kalau di Indonesia, yang cantik dan tinggi ogah jadi atlet. Mending jadi model atau artis. Uangnya lebih banyak," timpal penonton yang lain.

Sejumlah atlet putri Korea memang menjadi sorotan saat Asian Games edisi ke-18 digelar di Jakarta dan Palembang. Sebut saja, Jung Hye-Lim. Usai meraih medali emas di cabang atletik nomor lari gawang 100 meter dan mengalahkan andalan Indonesia, Emilia Nova, follower instagramnya makin bertambah.

Saat dirinya meposting sesuatu bercaption huruf hangeul (aksara Korea), puluhan bahkan ratusan komentar berdatangan. Gilanya, 50 persen bahkan lebih komentar-komentar tersebut berbahasa Indonesia.

Tidak dipungkiri, selain berprestasi, Jung Hye-Lim memiliki paras cantik. Bahkan wajahnya serupa bintang-bintang K-Pop ataupun Drama Korea. Tidak hanya Jung Hye-Lim, followers instagram beberapa atlet Korea lainnya juga bertambah banyak. Sebut saja dua atlet basket dari tim wanita Korea Bersatu, Park Ha-Na dan Kang Lee-Seul.

Tidak hanya dari Korea, sejumlah atlet bertubuh bagus dan berparas cantik dari beberapa negara seperti China, Jepang, Kazakstan juga dibanjiri para followers. Tak hanya kebanjiran followers, empat negara tersebut juga kerap mengisi posisi empat besar dalam tabel perolehan medali Asian Games selama beberapa edisi. Hanya di Asian Games 2018 ini posisi Kazakstan merosot ke posisi ke sembilan dan tempat keempat diisi tuan rumah Indonesia.

Ketika melihat prestasi luar dalam empat negara ini, maka jadi teringat celoteh penonton di warung kopi tadi. Di Indonesia, pekerjaan menjadi seorang atlet masih menjadi nomor yang kesekian. Jika punya anak yang rupawan dan memiliki postur bagus tentu orangtuanya lebih memilih memasukkan mereka ke sekolah model bahkan ada yang pramugari.

Hal itu yang dialami atlet cantik Indonesia yang meraih emas di cabang pencak silat, Wewey Wita. Orangtuanya sempat mengikutikannya ke lomba fashion show. Meski juara fashion show, Wewey tetap ngotot di olahraga.

Beda halnya yang dialami China, Jepang dan Korsel. Negara-negara yang telah selesai dengan dirinya sendiri tersebut, menganggap semua bidang termasuk olahraga merupakan bidang unggulan. Mereka berpacu untuk memberikan yang terbaik di semua sektor. Tidak heran mereka selalu melahirkan atlet berbakat berparas rupawan serta menjadi tiga terbaik di Asian Games.

Berbeda dengan Indonesia, negara ini masih belum kelar dengan dirinya sendiri. Ajang Asian Games saja menjadi tempat pertikaian pendapat dua kubu pendukung poros politik negeri ini. Gimana mau berprestasi lebih baik, jika hingga kini ada dua kubu saling berselisih. Kubu 'Cebong' dan kubu 'Kampret'. Dua kubu itu yang kerap ramai di media sosial.

Seperti yang dikatakan Gubernur Terpilih Jawa Barat, Ridwan Kamil atau Ketua Kadin Jawa Timur, La Nyalla Matalliti untuk menyudahi perang atau istilah 'Cebong' maupun 'Kampret'. Bangsa ini harus bahu-membahu menyelesaikan masalahnya. Kemudian menjadi bangsa yang di follow bangsa-bangsa lainnya. Bukannya menjadi followers bangsa lain. (tribunjateng/cetak/har)

Penulis: suharno
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved