Banyak Pedagang Dianggap Melanggar Penempatan, Disdag Solo Optimalkan Penataan Pasar

Menurutnya, pihaknya terus melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pasar di Solo

Banyak Pedagang Dianggap Melanggar Penempatan, Disdag Solo Optimalkan Penataan Pasar
TRIBUNJATENG/SUHARNO
Para pedagang Pasar Gede Hardjonagoro, Solo, merayakan hari jadi pasar tersebut yang ke 87 tahun, Kamis (12/1/2017) pagi. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Dinas Perdagangan Kota Solo terus optimalkan penertiban pedagang di pasar di Kota Bengawan secara intensif. Itu dikarenakan banyak pedagang yang dianggap melanggar dan berjualan tak sesuai dengan penempatan.

Kepala Disdag Solo, Subagiyo mengatakan jika tujuan pengoptimalan di pasar adalah agar pasar menjadi bersih serta jauh dari pelanggaran terkait ruang, penempatan dan jenis dagangan.

"Kami maunya pasar jadi bersih, ramah, jujur. Ketika ada pelanggaran sedikit saja langsung kami perbaiki," katanya, Rabu (5/9/2018).

Menurutnya, pihaknya terus melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pasar di Solo.

Terakhir kali sidak dilakukan awal pekan ini di Pasar Gede. Di sana, ia memaparkan, ada 11 lokasi jualan yang dinilainya melanggar aturan.

"Mulai dari tempat istirahat kuli panggul, Selasar hingga tempat berjualan. Kebanyakan pelanggaran pedagang kios dan pelataran," terang dia.

Menurut Subagiyo, pelanggaran tersebut sebenarnya tak hanya terjadi di satu pasar saja. Tetapi di beberapa pasar di Solo, di mana pedagang berpotensi melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Namun yang pasti pelanggaran yang dilakukan berbeda antara satu pasar dengan pasar lainnya. Sebab pelanggarannya sesuai dengan kebutuhan dari pedagang masing-masing.

"Misalnya untuk pedagang pengecer, pasti ingin tempat yang terlihat. Sedangkan kalau pedagang grosir lebih karena butuh banyak tempat karena dagangannya ditaruh di lokasi semua," papar dia.
Lebih jauh untuk para pedagang yang melakukan pelanggaran, akan pihaknya berikan pembinaan. Tujuannya agar tak melakukan pelanggaran lagi di waktu mendatang.

"Pembinaan itu sifatnya yang mendidik, bukan hukuman. Tujuannya agar mereka bisa memahami mana yang benar dan mana yang tidak," ujarnya. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved