Nilai Tukar Rupiah

BERITA LENGKAP Langkah Bank Indonesia Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Hari Kamis kita beli Rp 3 triliun, Jumat Rp 4,1 triliun, Senin Rp 3 triliun, dan kemarin Rp 1,8 triliun," ujar dia kemarin.

BERITA LENGKAP Langkah Bank Indonesia Stabilkan Nilai Tukar Rupiah
kontan.coi.id
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia melakukan berbagai langkah stabilisasi nilai tukar salah satunya dengan intervensi ganda di pasar valuta asing.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, hingga Selasa (4/9), BI telah mengeluarkan Rp 11,9 triliun baik di pasar valuta asing maupun membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Sejak Kamis, Jumat, Senin, Rabu kita intervensi jumlahmya meningkat. Juga di pasar sekunder koordinasi dengan Kemenkeu, pembelian SBN tidak hanya stabilkan pasar SBN tapi juga mendukung stabilitas nilai tukar, agar suhu badan kita turun.

Hari Kamis kita beli Rp 3 triliun, Jumat Rp 4,1 triliun, Senin Rp 3 triliun, dan kemarin Rp 1,8 triliun," ujar dia kemarin.

Dia menjelaskan, intervensi ganda merupakan salah satu bentuk langkah jangka pendek untuk stabilkan rupiah. Selain itu, menurut Perry, hal terpenting dalam menjaga stabilitas rupiah adalah dengan menyeimbangkan tingkat depresiasi serta volatilitas nilai tukar tersebut. Sehingga nantinya, jika harus terdepresiasi terhadap dollar AS tidak akan terjadi secara tiba-tiba.

"Yang paling penting adalah menjaga tingkat depresiasi agar tidak oversoothing sehingga kalau memang terjadi depresiasi tidak mendadak, tetapi secara gradual," ucapnya.

Dia menyebutkan, Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk mengawal ketat rupiah seperti meningkatkan suku bunga acuan, intervensi ganda di pasar valas, serta menawarkan swap dengam biaya yang lebih murah.

Di sisi lain, bankir menyebut belum ada debitur yang menunda pembayaran kredit valasnya seiring dengan melemahnya rupiah dalam beberapa bulan terakhir.

Presiden Direktur Bank Mayapada, Haryono Tjahjarijadi mengatakan, sampai saat ini tidak ada debitur bank yang menunda pembayaran kredit valas. Selain itu, tidak ada penarikan simpanan valas yang dilakukan nasabah, semuanya normal.

"Hingga saat ini tidak ada, mudah-mudahan tidak ada," kata Haryono, Rabu (5/9).
Hal senada juga dikatakan Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Boedi Armanto. Sejauh ini pihaknya mencatat belum ada debitur perbankan yang melakukan penundaaan pembayaran kredit valasnya. Menurutnya, hal itu dikarenakan nasabah sudah memperhitungkan pelemahan rupiah sebelumnya (price in). Namun OJK belum mengecek jika ada perusahaan atau debitur yang mempunyai eksposure kredit di luar negeri.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved