Jumat, 15 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Nilai Tukar Rupiah

Bisnis Apa yang Aman saat Gejolak Nilai Tukar Rupiah Anjlok?

Ketua Apindo Jateng Frans Kongi mengatakan, keperkasaan dolar membuat dunia usaha di Jateng semakin berat.

Tayang:
Editor: iswidodo
tribunjateng/dok
Kegiatan di Terminal Peti Kemas Tanjung Emas Semarang 

TRIBUNJATENG.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin melemah. Saat ini, kurs USD terhadap rupiah hampir menembus angka Rp 15 ribu. Spot penutupan perdagangan kemarin di angka 14.935 rupiah per dolar AS.

Kondisi ini tentunya mempengaruhi dunia usaha di Indonesia termasuk di Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng Frans Kongi mengatakan, keperkasaan dolar membuat dunia usaha di Jateng semakin berat.
Frans menyebut, yang membuat pengusaha di Jateng menjerit adalah tingginya biaya impor bahan baku.

"Bahan baku dibeli pakai dolar otomatis cost (biaya) lebih tinggi dikeluarkan untuk beli bahan baku," ujar Frans, Selasa (4/9).

Saat ini, kata Frans, 70 persen lebih bahan baku produksi di Jawa Tengah berasal dari impor. Bahan baku ini didatangkan dari luar negeri untuk memenuhi produksi barang kebutuhan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Bahan baku yang tidak diimpor, kata Frans hanya bahan baku kayu. "Cuma kayu saja yang tidak diimpor, selebihnya impor lebih dari 70 persen," katanya.

Meski menjerit lantaran harga bahan baku yang melonjak, namun eksportir bisa bernafas lega lantaran pembayaran produk ke luar negeri menggunakan dolar AS.
"Di lain pihak, kalau dibarengi dengan ekspor sedikit lumayan. Beli bahan baku pakai dolar, jualnya juga pakai dolar," katanya.

Frans menyebut kondisi nilai tukar rupiah yang fluktuatif seperti ini sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya.

Meski semakin melemah, namun menurut Frans fundamental ekonomi Indonesia masih di batas aman.

Terlebih menurutnya data terakhir saat ini Indonesia mencatat inflasi yang hanya tiga persen. "Neraca pembayaran memang defisit, tapi masih dalam batas normal," katanya.

Namun Frans mewaspadai kondisi spekulan apabila dolar menembus angka Rp 15 ribu. Angka ini menurut Frans adalah batas akhir psikologis pelaku usaha dan spekulan lainnya. "Kalau sampai tembus di angka Rp 15 ribu, bisa bahaya. Spekulan akan bermain," katanya.

Frans berharap pemerintah mampu menstabilkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

"Kami sementara mengakali dengan cara efisiensi, memanfaatkan waktu kerja. Semua sumber daya dimaksimalkan penggunaannya, listrik yang tidak perlu ya dimatikan. Semua serba efisiensi sekarang ini, tapi tidak akan sampai pada tingkat PHK karyawan," pungkasnya.

Untungkan eksportir

Pelemahan nilai tukar rupiah bagi sebagian orang menjadi berkah tersendiri. Salah satunya bagi mereka pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pengusaha area Jawa Tengah yang sudah berorientasi ekspor.
Pelaku UMKM di Jawa Tengah Ershad menganggap pelemahan nilai tukar rupiah tidak justru menguntungkan bagi dia.

"Jadi kalau ekspor pembayarannya itu pakai dolar AS dan kalau nilai tukar Rp 12 ribu kami mengalami kerugian. Tapi kalau nilai tukar rupiahnya Rp 15 ribu kami merasa senang," terang Ershad, selasa (4/9).
Ershad selaku pengurus perusahan Zem Silver yang berlokasi di Desa Mijen, Kecamataan Kebonagung, Demak menggeluti usaha pembuatan pernak-pernik dari logam.

Selain perhiasan, Zem Silver juga membuat peralatan rumah tangga, cap batik, logo instansi dan kerajinan-kerajinan dari bahan logam. Ershad memasarkan produknya lewat market place dan sosmed.
"Produk kami sudah di ekspor ke beberapa negara seperti Suriname, Austria, Jerman, Ingris, Selandia Baru, dan Hongkong," jelasnya.

Bisnis fashion aman

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar diakui Irma Susanti sebagai pelaku bisnis fashion tak terlalu memberikan dampak yang signifikan terhadap bisnisnya.
Perempuan di balik brand Identix Batik ini mengatakan, dampak lemahnya rupiah tidak serta-merta mendatangkan keuntungan di penjualan produk batik yang telah diekspor ke manca negara.

"Kalau dari bisnis fashion itu tidak begitu berpengaruh karena fashion ini kan lebih tergantung kebutuhan, kalau orang butuh ya tinggal beli, tidak terlalu mempertimbangkan bagaimana kondisi perekonomian atau nilai tukar uang. Jadi, dari sisi penjualan tidak begitu berpengaruh," ujar Irma saat ditemui di gerai Identix, Selasa (4/9).

Dikatakan Irma, sepanjang tahun ini rata-rata ia mengekspor sekitar 20 buah produk fashion setiap bulannya ke berbagai negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Jepang, Korea, Turki, Jerman, hingga Rusia. Jumlah produk Identix yang dieskpor tidak terlalu mengalami peningkatan meskipun kondisi rupiah sedang tidak stabil.

“Memang ada repeat order, tapi lebih kepada kebutuhan konsumen bukan karena kondisi perekonomian Indonesia," imbuhnya.

Meskipun rupiah melemah, Irma tidak memanfaatkan momen ini untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. "Harga tetap sesuai dengan harga standar jual," kata dia.

Sebagai pengusaha yang berorientasi ekspor, ia berharap kondisi perekonomian Indonesia segera membaik.

"Meskipun kami ekspor tapi kami pun melakukan kerjasama tekstile dengan pihak luar, dengan impor kain dari China misalnya untuk item Identix tertentu," jelasnya. (tribunjateng/cetak/fap/lyz/dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved