FOCUS

FOCUS: Bersatu Menjaga Rupiah

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi sejak beberapa pekan kemarin semakin mengkhawatirkan.

FOCUS: Bersatu Menjaga Rupiah
tribunjateng/grafis/bram kusuma
ERWIN Ardiansyah wartawan Tribun Jateng 

Tajuk ditulis oleh wartawan Tribun Jateng, Erwin Ardian

TRIBUNJATENG.COM - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi sejak beberapa pekan kemarin semakin mengkhawatirkan. Pelan tapi pasti nilai tukar rupiah kini nyaris menembus angka psikologis di level 15.000 per dolar AS.

Jika tak ditangani dengan baik, makin melemahnya nilai tukar rupiah bisa menjadi bola salju yang menggelinding bebas dan berbahaya bagi negeri ini. Hal yang paling diingat adalah gelombang krisis ekonomi hebat yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah pada 1998.

Berawal dari terus naiknya nilai tukar hingga kolapsnya beberapa bank, krisis moneter berujung pada penderitaan panjang. Pertumbuhan ekonomi yang terhambat, jumlah pengangguran yang meningkat tajam hingga kondisi sosial yang mengalami gejolak, menjadi harga mahal yang harus dibayar.

Kala itu rezim Orde Baru masih kuat mencengkeram setelah 32 tahun lamanya berkuasa. Namun menghadapi krisis moneter, Presiden kala itu Jenderal bintang lima HM Soeharto tak kuasa mempertahankan kekuasaannya.

Kini di era yang lain yakni saat bangsa ini menerapkan demokrasi, ancaman serupa datang lagi. Nilai dolar saat ini adalah yang tertinggi sejak 1998. Namun jangan diasumsikan risikonya akan sama, karena rasio kenaikan nilai tukar dolar sangat berbeda dengan krisis moneter 1998. Rasio yang ada saat ini jauh lebih aman.

Namun mirisnya, reaksi terhadap keperkasaan dolar kali ini jauh berbeda dengan 1998. Seiring semakin dekatnya Pilpres 2019, dan makin meruncingnya pilihan terhadap dua kubu capres yakni incumbent Joko Widodo dan penantangnya Prabowo Subianto, ancaman krisis akibat melemahnya rupiah seolah menjadi sarana untuk berkampanye.

Kubu oposisi atau lawan pemerintah saat ini menganggap pelemahan rupiah adalah bukti kegagalan pemerintah. Bahkan ada kesan mereka ingin membuktikan bahwa pemerintah kini melempem menghadapi kuatnya dolar.

Di kubu yang mendukung pemerintah, berbagai alasan dikeluarkan untuk membuktikan bahwa pelemahan dolar ini terjadi lantaran faktor luar. Celakanya, ngototnya kedua kubu kini makin meruncing. Seolah kubu oposisi menginginkan dolar makin kuat, sedangkan kubu lainnya ingin rupiah makin kuat. Jika kondisi ini tak segera berubah, yang paling diuntungkan adalah pihak asing atau pemegang dolar, sedangkan krisis yang membayangi negeri ini bia saja terjadi.

Padahal cara paling efektif untuk ‘mengalahkan’ dolar adalah dengan bersatu. Bukannya saling menyalahkan atau mencari pembenaran masing-masing, seluruh elemen bangsa baik yang mendukung pemerintah atau oposisi harus mengambil tindakan untuk menyelamatkan rupiah.

Kita harus sadar, jika terjadi krisis, mereka yang terdampak bukanlah pendukung capres tertentu, melainkan semua warga negara Indonesia. (tribunjateng/cetak/ear)

Penulis: erwin adrian
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved