OPINI

OPINI Saiful Anwar: Kemerdekaan Kota Semarang

Parameter kota dapat dikatakan merdeka apabila telah mampu mewujudkan keadaan yang aman dan nyaman.

OPINI Saiful Anwar: Kemerdekaan Kota Semarang
Tribun Jateng
Saiful Anwar 

Oleh Saiful Anwar

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum UNNES & Santri di School of Islamic Law Mohammad Nasih Insitute Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Parameter kota dapat dikatakan merdeka apabila telah mampu mewujudkan keadaan yang aman dan nyaman. Setiap warga yang bermukim mampu hidup guyub, rukun, tolong menolong, dan saling menguatkan dalam melawan rasa takut. Kriminalitas tidak akan terjadi, apabila ketamakan diri atas kekuasaan minim adanya.

Fakta yang terjadi hari ini, seharusnya kelompok borjuis melindungi kaum ploretar. Namun, mereka yang kuat justru semakin menindas yang lemah. Demikian pula dengan kelompok miskin, yang berfikir harus kaya hingga rela menghilangkan kesadarannya dengan tindakan kriminalitas.

Di ujung momentum kemerdekaan, banyak harapan yang dipanjatkan melalui doa-doa masyarakat. Khususnya warga kota Semarang. Menjadi kota yang tentrem karto raharjo, kota yang penuh dengan ridho dan pengampunan Tuhan YME. Semoga diberikan kekuatan dan keselamatan dari maraknya kejahatan yang sering terjadi.

Semarang adalah kota terbesar keenam. Dengan luas 373,8 km2 dengan kepadatan 4.747/km. Hal ini menunjukkan, ketika dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya, Semarang mempunyai teritoris wilayah relatif kecil dengan jumlah penduduk yang lumayan besar. Data Duspendukcapil kota Semarang mencatat, periode maret 2015 terdapat 1.765.396 jiwa warga kota Semarang.

Luas kota yang dihuni sesak oleh masyarakat berulang kali menjadi wahana oleh sekelompok ataupun pribadi yang bengis. Berbagai tindak kriminalistas mulai sering terjadi. Perampokan, begal, pungli, bahkan pembunuhan. Yang kesemuanya itu adalah bentuk teror yang ditakuti oleh masyarakat setempat.

Selaras dengan fenomena di atas, nampaknya kota Semarang belum bisa disebut dengan kota yang telah merdeka. Terdapat dua hal yang melatarbelakangi statement tersebut. Sejauh ini, hingga tulisan ini muncul, telah menjadi trending topik diberbagai tempat obrolan santai. Menjadi bahan cibiran di angkringan, warung makan, tempat wisata, dan di kampus-kampus.

Pertama, tingginya angka kriminalitas yang berlangsung di Kota Semarang. Kedua, maraknya aktivitas pungutan liar (pungli) di kota Semarang. Masing-masing faktor tersebut menjadi dasar bahwa kemerdekaan belum tentu dinikmati sebuah kota meski hanya ditinjau dari lingkup yang paling kecil.

Kemerdekaan yang diharapkan masyarakat Semarang adalah terwujudnya kerukunan hidup antar warga. Memberikan rasa aman ketika masyarakat melaksanakan aktivitas. Namun, kabar mengejutkan ditandai dengan pemberitaan yang tidak ada habisnya tentang tindak kejahatan diberbagai media sosial. Baik cetak maupun online.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved