Liputan Khusus

LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos

Bermula dari hobi jalan-jalan, Alya Novinda (20) memutuskan menggeluti bisnis jasa titip (jastip).

LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos
tribunjateng/dok
LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos 

"Awalnya saya tidak minta imbalan. Tapi saya mikir dan dapat saran dari teman sepertinya ini bisa jadi peluang bisnis," urainya.

Menurut dia, berbisnis jastip cukup menggiurkan. Bahkan, ia pernah mendapat keuntungan bersih Rp 2 juta hanya dalam waktu tiga hari, atau sekali membuka orderan jastip.

Berbeda dibandingkan dengan jastip lain yang membuka orderan setiap hari, menyediakan akun media sosial khusus, hingga rutin menerbitkan foto-foto produk, pria asal Cirebon itu mengaku belum serius menggeluti usaha itu.

Alasannya karena masih terikat kontrak kerja yang tentunya menyita waktu. Selain itu, produk di Semarang kurang menarik dan susah untuk dijual, karena brandnya pasaran dan kurang up to date.

Tugas luar kota

Fahmi hanya membuka orderan jastip saat ada tugas kerja luar kota atau ketika traveling. Memanfaatkan dua media sosial yaitu WhatsApp dan Instagram, tetapi itupun menggunakan akun pribadinya, atau tidak menyediakan akun khusus. "Paling sebulan dua sampai tiga kali jastip saja," jelasnya.

Setiap produk yang di-jastip Fahmi mengambil keuntungan Rp 10 ribu-Rp 30 ribu, di luar ongkos kirim. Besaran upah tergantung barang yang dibeli, biasanya semakin mahal harga sebuah produk upah jastip juga ikut tinggi.

Produk yang biasa di-jastip antara lain pakaian, sepatu, aksesoris, hingga makanan.
Fahmi memberikan ilustrasi, katakanlah ia akan berada di Jogja selama tiga hari. Sebelum berangkat, ia lebih dulu membuat Instastory atau pengumuman bertuliskan open order, dan meminta followers menyimak akunnya pada tanggal itu supaya tahu produk apa saja yang ditawarkan.

Tak jarang ia juga membuat daftar produk yang sudah lebih dulu dikenal di Instastory atau WhatsApp story miliknya, seperti Bakpiaku, atau makanan khas daerah tersebut.

Ketika hari H, usia menyelesaikan tugas kantor Fahmi pergi ke mal di daerah itu untuk berburu produk yang akan ditawarkan. Berbagai produk difoto kemudian di-upload pada Instastory atau WhatsApp story disertai harga.
Orderan pun bermunculan dari teman atau followers. Biasanya, Fahmi dalam memasarkan barang memilih produk yang baru atau sedang promo, sehingga akan lebih menarik pembeli.

Halaman
1234
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved