Liputan Khusus

LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos

Bermula dari hobi jalan-jalan, Alya Novinda (20) memutuskan menggeluti bisnis jasa titip (jastip).

LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos
tribunjateng/dok
LIPSUS LENGKAP: Mengintip Aktivitas Bisnis Jastip Perorangan Via Medsos 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bermula dari hobi jalan-jalan, Alya Novinda (20) memutuskan menggeluti bisnis jasa titip (jastip). Mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu menekuni jastip sebagai bisnis sampingan di sela-sela kuliah sejak awal 2017 silam.

"Aku aslinya Jakarta, tapi dulu sempat tinggal di Cianjur. Pas tinggal di sana kan sering jalan-jalan ke Bandung dan Jakarta‎, di sana kan banyak yang jual brand-brand terkenal, terus teman-teman pada nitip gitu," kata gadis berkerudung yang karib disapa Ovi itu, kepada Tribun Jateng, akhir pekan lalu.

Saking seringnya mendapat titipan belanjaan dari teman-teman, Ovi pun berpikir hal itu bisa menjadi peluang bisnis baginya. Ia pun kemudian membuat akun media sosial (medsos) yang khusus memromosikan bisnis jastip-nya itu.

Akun instagram binsis jastip milik Ovi‎ dapat dikunjungi di @jastipsmg_.

Komoditas yang menjadi objek jastip cukup bervariasi, mulai kosmetik, skincare, tas, sepatu, sandal, pakaian, hingga kuliner.

"Akhirnya tiap main ke kota lain selalu woro-woro di medsos, promosi, siapa yang mau nitip," tuturnya.

Tak hanya kota-kota di dalam negeri, Ovi juga sudah dua kali traveling ke luar negeri‎, tepatnya ke Kuala Lumpur (KL) Malaysia, serta Singapura. Saat ke dua kota di negeri tetangga itupun, Ovi kebanjiran order titipan, mulai pakaian, sepatu, sandal, kosmetik, dan berbagai produk penganan.

"Barang-barang branded di sana harganya lebih murah dibanding di Indonesia, mungkin karena pajak di sini (Indonesia-Red) lebih gede kali ya, sehingga banyak yang titip," ucap mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) semester lima itu.

Keuntungan yang diraih Ovi pun cukup lumayan untuk menambah uang saku dan sebagian ditabung. Saat traveling ke luar negeri, keuntungan dari jastip bisa mencapai Rp 3,5 juta.

"Kalau jastip pas di luar negeri untungnya lumayan, karena ongkos jasanya kami sendiri yang nentuin, dan tentu lebih gede daripada jastip di dalam negeri," ujarnya.

Saat membuka jastip di dalam negeri, menurut dia, keuntungan paling mentok di angka Rp 1 juta, rata-rata di kisaran ‎Rp 500 ribu-Rp 850 ribu. "Kemarin terakhir pas main ke Bandung ada diskon gede-gedean di Trans Studio Mall (TSM), Alhamdulillah dapat kalau Rp 900 ribu," paparnya.

Produk Semarang

Selain saat jalan-jalan ke luar kota, Ovi pun membuka jastip berbagai produk yang dijual di Semarang‎ untuk orang-orang yang berada di luar Kota Lumpia. Untuk jastip di dalam Kota Semarang, ia mengutip uang jasa Rp 20 ribu/item.

"Di Semarang kan ada wifecake, wingkorolls, dan lain-lain, itu saya juga terima titipan bagi yang tinggal di luar Semarang," urai gadis kelahiran 22 November 1998 itu.

‎Kendati cukup menggiurkan, pendapatan Ovi dari bisnis jastip itu tak menentu tiap bulan, lantaran ia tak selalu bepergian. Sementara, jastip untuk barang-barang yang di Semarang juga tak selalu ramai.

Dalam setahun, ia bisa dua-tiga kali pulang ke Jakarta untuk liburan. Saat seperti itu, ia pasti membuka jasa titip‎. "Kalau rajin promo di IG, ya pasti ada aja yang nitip," terangnya.

‎Terkait dengan rencana traveling ke luar negeri lagi, Ovi belum bisa memastikan. Ia mengaku masih menunggu saat yang tepat. "Nunggu ada promo tiket murah dulu, sekalian liburan sama keluarga," ucapnya, sembari tersenyum.

Adapun, aktivitas bisnis serupa digeluti Fahmi Pribadi (23) setahun terakhir. Pekerjaan sampingan itu dilakukan di sela-sela aktifitas kerjanya sebagai karyawan hotel.

Ia masih ingat betul awal mula menggeluti usaha jastip. Saat itu, ia sedang tugas luar kota, dan pergi jalan-jalan di sebuah mal.

Di sana, ia mengupload produk di beberapa brand terkenal memanfaatkan media sosial di smartphone. Seketika itu ada seorang temannya mengirim pesan minta titip dibelikan produk yang direkamnya itu.

"Awalnya saya tidak minta imbalan. Tapi saya mikir dan dapat saran dari teman sepertinya ini bisa jadi peluang bisnis," urainya.

Menurut dia, berbisnis jastip cukup menggiurkan. Bahkan, ia pernah mendapat keuntungan bersih Rp 2 juta hanya dalam waktu tiga hari, atau sekali membuka orderan jastip.

Berbeda dibandingkan dengan jastip lain yang membuka orderan setiap hari, menyediakan akun media sosial khusus, hingga rutin menerbitkan foto-foto produk, pria asal Cirebon itu mengaku belum serius menggeluti usaha itu.

Alasannya karena masih terikat kontrak kerja yang tentunya menyita waktu. Selain itu, produk di Semarang kurang menarik dan susah untuk dijual, karena brandnya pasaran dan kurang up to date.

Tugas luar kota

Fahmi hanya membuka orderan jastip saat ada tugas kerja luar kota atau ketika traveling. Memanfaatkan dua media sosial yaitu WhatsApp dan Instagram, tetapi itupun menggunakan akun pribadinya, atau tidak menyediakan akun khusus. "Paling sebulan dua sampai tiga kali jastip saja," jelasnya.

Setiap produk yang di-jastip Fahmi mengambil keuntungan Rp 10 ribu-Rp 30 ribu, di luar ongkos kirim. Besaran upah tergantung barang yang dibeli, biasanya semakin mahal harga sebuah produk upah jastip juga ikut tinggi.

Produk yang biasa di-jastip antara lain pakaian, sepatu, aksesoris, hingga makanan.
Fahmi memberikan ilustrasi, katakanlah ia akan berada di Jogja selama tiga hari. Sebelum berangkat, ia lebih dulu membuat Instastory atau pengumuman bertuliskan open order, dan meminta followers menyimak akunnya pada tanggal itu supaya tahu produk apa saja yang ditawarkan.

Tak jarang ia juga membuat daftar produk yang sudah lebih dulu dikenal di Instastory atau WhatsApp story miliknya, seperti Bakpiaku, atau makanan khas daerah tersebut.

Ketika hari H, usia menyelesaikan tugas kantor Fahmi pergi ke mal di daerah itu untuk berburu produk yang akan ditawarkan. Berbagai produk difoto kemudian di-upload pada Instastory atau WhatsApp story disertai harga.
Orderan pun bermunculan dari teman atau followers. Biasanya, Fahmi dalam memasarkan barang memilih produk yang baru atau sedang promo, sehingga akan lebih menarik pembeli.

Menurut dia, selalu ada pembeli setiap kali ia memasarkan produk. Jika pun dirasa kurang, ia akan langsung jemput bola menawarkan barang kepada konsumen yang dianggap potensial. Konsumen diminta transfer lebih dulu sebelum ia membeli produk.

"Sebab kan mungkin ada orang yang tidak sempat buka Instagram atau melihat Instastory saya. Jadi kadang saya kirim tawaran secara japri (jalur pribadi)," kata pemilik akun Instagram @fahpribadi.

Sekali Jastip, Fahmi bisa menjual ratusan produk, baik pakaian, sepatu hingga makanan. Keuntungan bersih yang bisa diraih dalam sekali bepergian berkisar antara Rp 1 juta-Rp 2 juta. (tribunjateng/cetak/lipsus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved