Ngopi Pagi
FOKUS: Mohon Lupakan Sejenak
Nilai tukar rupiah setahun belakangan ini telah melemah sekitar 11 persen. Pada September 2017, rupiah ada pada level Rp 13.345
Penulis: galih pujo asmoro | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Galih Pujo Asmoro
Wartawan Tribun Jateng
TRIBUNJATENG.COM -- Nilai tukar rupiah setahun belakangan ini telah melemah sekitar 11 persen. Pada September 2017, rupiah ada pada level Rp 13.345 per dolar AS dan kemarin, kurs mata uang Garuda berada di level Rp 14.840 per dolar AS. Banyak orang yang khawatir, atau memang sengaja ada yang menghembuskan, krisis 1998 berpotensi terulang.
Jika melihat hanya dari satu sisi, nilai tukar rupiah belakangan ini dibandingkan September 1998 malah jauh berada di atasnya. 20 tahun lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 10.725 per dolar AS.
Namun jika mengacu pada persentasenya, angka 11 persen amat sangat kecil dibanding saat itu. Pada September 1997, kurs rupiah tercatat Rp 3.030 per dolar AS dan terdepresiasi hingga 254 persen setahun setelahnya jadi Rp 10.725 per dolar AS.
Banyak faktor yang menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini. Misalnya suku bunga acuan yang terus dinaikan oleh bank sentral AS Federal Reserve yang jadi salah satu penyebab. Selain itu, ada faktor internal yang mempengaruhi kekutan rupiah, yakni besarnya defisit transaksi berjalan ketimbang transaksi modal dan finansial untuk menutupinya.
"Jadi itu kemudian sumber utama pelemahan kurs di tengah interest rate dari AS yang terus meningkat dan belum berhenti," demikian diungkapkan Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara.
Apapun alasannya, harus diakui saat ini rupiah benar-benar loyo menghadapi dolar Amerika. Dampaknya, sudah jelas mulai terasa. Misalnya pada perajin tempe di Tegal yang memilih memperkecil ukuran dibanding harus menaikkan harga. Belum lagi perajin tahu yang harus mengurangi karyawannya sebagai sebuah solusi agar usahanya tetap berjalan. Alasannya, harga kedelai impor sebagai bahan baku utama terus merangkak naik.
Demikian juga dengan harga bawang putih impor di Kudus yang naik 18 persen dari Rp 22 ribu jadi Rp 26 ribu per kilogram. Bahkan karena kenaikan harga dan fluktuasi nilai tukar rupiah, pedagang hanya berani menyimpan stok bawang putih sebanyak 5 kilogram.
Pemerintah tidak tinggal diam menyikapi pelemahan rupiah. Namun sekuat apapun pemerintah berusaha, tanpa dukungan penuh dari segenap elemen, hasilnya tidak akan maksimal.
Kondisi bisa jadi bakal lebih parah jika seandainya ada segelintir orang di tataran elit yang terus mengeksploitasinya. Berbagai kabar menakutkan dihembuskan untuk menggerus kepercayaan terhadap pemerintah atau demi kepentingan lainnya.
Mereka yang duduk di tataran elit, alangkah baiknya melupakan sejenak "pertikaian" politiknya dan bahu membahu untuk mengatasi pelemahan rupiah. Selain itu, hentikan juga berbagai statement yang mengesankan pelemahan rupiah sekarang ini sudah sedemikian mengerikan bagi semua orang, terutama rakyat tidak mampu.
Saya teringat ada seorang teman yang tiba-tiba nyeletuk menanggapi sebuah pemberitaan beberapa waktu lalu. "Sudahlah, jangan mengeksploitasi orang miskin dan penderitaan orang lain jika hanya untuk mencari simpati. Kasihan mereka. Sudah miskin dijadikan komoditas pula untuk menyerang lawan politiknya." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gondrong-galih-p-asmoro_20170814_073232.jpg)