Ngopi Pagi

FOKUS: Kemarau

Kemarau kian meluas khususnya di Jawa Tengah. Tak terkecuali kebakaran hutan, yang bak satu paket dengan musim yang bermakna kering itu.

FOKUS: Kemarau
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Oleh Sujarwo

Wartawan Tribun Jateng

TRIBUNJATENG.COM -- Kemarau kian meluas khususnya di Jawa Tengah. Tak terkecuali kebakaran hutan, yang bak satu paket dengan musim yang bermakna kering itu.

Mengingatkan lagu Kemarau-nya Nw Rollies, band tanah air yang kondang tahun 80-an. "Panas nian kemarau ini/rumput-rumput pun merintih sedih/Resah tak berdaya..." Demikian petikan lirik lagu tersebut,

Ya, kemarau panjang itu membuat sejumlah daerah kekeringan. Hutan rawan terbakar. Air bersih sulit didapat. Balita dan lansia pun turut berebut dalam pembagian air.

Betapa tidak. Di Purbalingga, misalnya, Badan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengalami defisit persediaan air bersih.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Purbalingga, Muhsoni mengatakan, pihaknya sebenarnya telah menaikkan anggaran untuk bantuan air bersih melalui anggaran perubahan APBD, dari 750 tangki menjadi 1.000 tangki air bersih.Ternyata persediaan sebanyak itu pun belum cukup memenuhi kebutuhan masyarakat yang dilanda kekeringan. Hingga Jumat (14/9) sudah sebanyak 1.171 tangki didistribusikan ke 57 desa di 13 kecamatan terdampak kekeringan.

Purbalingga tak sendirian. Warga puluhan desa di Grobogan juga sedang merintih sedih. BPBD Kabupaten Grobogan mencatat, 82 desa yang ada di 12 kecamatan di kabupaten tersebut, mengalami krisis air bersih. Tercatat, permintaan droping air bersih dari puluhan desa itu sudah berlangsung sejak awal Juni. Sekitar 3.500 jiwa warga Desa Jambangan, saja, hanya mengandalkan droping air bantuan dari pemerintah.

Kekeringan tak berujung yang suram bagi warga desa di Grobohan itu, tulis Kompas.com, memicu naluri tokoh masyarakat setempat untuk berburu sumber mata air. Mereka pun bersepakat mencari sumber mata air peninggalan lelulur yang diyakini masih bersemayam di bawah permukaan tanah.

Tentu saja bukan Purbalingga dan Grobogan saja, warga desa di daerah lain sedang mengalami musibah kemarau. Dan, layak digarisbawai, bahwa kemarau dan penghujan keniscayaan alam. Selayaknyua, khususnya pihak terkait sudah khatam dengan ilmu permusiman ini, sehingga bisa mengatasi saat kemarau tiba.

Sebelumnya, bulan Juli lalu, Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) memang sudah merilis prediksi bahwa musim kemarau masih akan terjadi sampai Oktober 2018. BMKG mengimbau kepada para petani lebih cermat memilih tanaman pangan yang akan ditanam.

BMKG hanya satu dari sejumlah pihak terkait yang membantu mengatasi kemarau, terkhusus bagi petani. Tapi bagaimana dengan warga desa lain yang benar-benar tak berdaya, tak punya sawah, kerja serabutan dan tempat tinggal jauh dari sumber air.

Butuh penanganan detil, butuh banyak pihak yang tak berhati kering. Bukan malah seperti seorang anggota DPRD yang belum lama terkena OTTjaksa karena diduga memeras dana bantuan rehabilitasi fasilitas pendidikan akibat bencana gempa Lombok. Pun pernyataan maupun pidato-pisato para politisi yang kering makna. Kalau yang seperti ini memang bikin keringnya air mata rakyat. (*)

Penulis: sujarwo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved