Debit Air Di Waduk Cacaban Kabupaten Tegal Berkurang 8 Centi Setiap Hari

Saat musim kemarau terjadi penurunan elevansi ketinggian muka air waduk hingga sekitar 7-8 centimeter perhari.

Debit Air Di Waduk Cacaban Kabupaten Tegal Berkurang 8 Centi Setiap Hari
TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Sejumlah perahu terpakir di Waduk Cacaban Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (19/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akhtur Gumilang

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Panjangnya musim kemarau berdampak pada jumlah debit air di Waduk Wisata Cacaban, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Musim yang menyebabkan kekeringan inu membuat debit air kian menyusut tiap harinya.

Kini, air waduk yang digunakan untuk mengairi 17 ribu hektar lahan pertanian itu ‎menyisakan hanya 9 juta meter kubik air saja.

Koordinator Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Kuswandi mengungkapkan, penurunan debit air Waduk yang dijadikan obyek wisata itu mulai terjadi sejak pertengahan Agustus 2018 lalu.

Sebab, kata Kuswandi, normal debit air biasanya berkisar 49 juta meter kubik.

Baca: Puluhan Anggota Peransaka Kwarda Jateng Ikuti Berbagai Macam Subcamp di Slawi

"Dari pertengahan Agustus mulai mengalami penurunan debit air karena di sini tidak turun hujan. Kini, di waduk cacaban tersisa tinggal 9 juta meter kubik lagi dari semula 49 juta," terang Kuswandi saat ditemui Tribunjateng.com, Selasa (18/9/2018).

Menurut dia, saat musim kemarau ini terjadi penurunan elevansi ketinggian muka air waduk hingga sekitar 7-8 centimeter per harinya.

Turunnya debit air tersebut secara otomatis juga membuat ‎pengeluaran air untuk mengairi lahan pertanian di empat kecamatan itu terus menurun.

"Dari 4.500 liter per detik menjadi 1.700 liter per detik per harinya. Empat kecamatan itu di antaranya, Kedungbanteng, Pangkah, Tarub, Slawi," sambungnya.

Baca: Setelah Menang di MK, KPU Kota Tegal Harus Hadapi Sidang Dewan Kehormatan

Perlu diketahui, Waduk Cacaban ini dibangun pada tahun 1952 dan mulai dioperasikan pada 1959.

Waduk Cacaban ini menjadi sumber perairan bagi lahan-lahan pertanian di empat kecamatan sekitarnya.

"Pengeluaran terus menurun. Untuk pengairan juga digilir, tapi untuk penggiliran memang sudah sejak lama," lanjut dia. (*)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved