Wanita Rohingya Diikat Pohon, Diperkosa Ramai-ramai, Anak-anak Dipaksa Masuk Lalu Dibakar

Laporan lengkap PBB mencantumkan kesaksian perempuan-perempuan yang diikat ke pohon dan kemudian diperkosa

Wanita Rohingya Diikat Pohon, Diperkosa Ramai-ramai, Anak-anak Dipaksa Masuk Lalu Dibakar
REUTERS via BBC Indonesia
Hampir 300.000 warga Muslim Rohingya membanjiri Bangladesh, menyelamatkan diri dari kekerasan di Myanmar yang meletus sejak 25 Agustus. 

TRIBUNJATENG.COM -- Laporan lengkap penyelidikan PBB tentang pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar mendokumentasikan kesaksian adanya "tindak perkosaan yang dilakukan tentara Myanmar terhadap perempuan-perempuan Rohingya".

Laporan lengkap -setebal 444 halaman dan dikatakan sebagai laporan terpanjang dalam sejarah PBB- diserahkan ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, hari Selasa (18/09).

Ringkasan laporan tim independen yang dibentuk PBB tersebut diumumkan Agustus lalu.

Baca: HEBOH! Diam-diam Masukkan Pria ke Rumah, Wanita Ini Dipaksa Jalani Tes Keperawanan Orangtuanya

Laporan lengkap PBB mencantumkan kesaksian perempuan-perempuan yang diikat ke pohon dan kemudian diperkosa anggota militer Myanmar.

Para penyelidik PBB mengatakan kasus-kasus perkosaan oleh militer Myanmar, dikenal dengan sebutan Tatmadaw, terjadi sejak 2011 dan meningkat sejak 2016 dan 2017 ketika militer menggelar operasi besar-besaran untuk membalas serangan oleh milisi Rohingya di negara bagian Rakhine pada Agustus 2017.

"Perkosaan dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual dilakukan dalam skala yang masif. Ratusan perempuan dan remaja diperkosa, kadang secara beramai-ramai.

Pekosaan beramai-ramai, melibatkan pelaku dan korban dalam jumlah banyak dalam satu insiden, jelas menjadi pola," kata laporan PBB.

Sekitar 80% insiden perkosaan yang ditemukan oleh tim penyelidik termasuk perkosaan beramai-ramai.

Baca: LIGA CHAMPIONS: Ini Hasil Pertandingan Dini Hari Tadi, Madrid Pesta Gol, City Tumbang

Delapan puluh dua persen dari kasus-kasus perkosaan beramai-ramai tersebut, pelakunya adalah tentara Myanmar.

"Ini terjadi setidaknya di 10 desa antara 25 Agustus hingga pertengahan September 2017."

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved