Tribun Campus

Mahasiswa Unissula Ciptakan Gelang Gerakan Salat

Mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menciptakan Gelang Gerakan Salat atau disingkat GGS.

daniel ari purnomo

TRIBUNJATENG.COM -- Mahasiswa Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menciptakan Gelang Gerakan Salat atau disingkat GGS. Alat itu ditujukan bagi penyandang disabilitas tuna rungu yang rutin menunaikan salat.

Adalah Aisyah Ardani dan Wa Ode Anastasya (Fakultas Agama Islam); Muqtafa Amirul Wildan, Cahrudin, dan Ufi Najib (Fakultas Teknologi Industri), yang menciptakan gelang tersebut.

"Kami sediakan dua jenis gelang. Yang satu untuk imam, satunya makmum," kata Aisyah, saat memerkan gelang tersebut kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di ruang kerja Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang, Rabu (19/9) sore.

Secara teknis, mahasiswa semester lima itu menjelaskan ada semacam pendeteksi gerakan yang berupa pemancaran sinyal dari gelang imam ke gelang makmum.

Sinyal itu kemudian dikonversikan gelang menjadi sebuah getaran.

Perempuan berkerudung itu membeberkan ide awalnya muncul saat sebuah riset ke sesama perkumpulan difabel. Salah satu yang dikeluhkan rekan tunarungu adalah salat.

Pertimbangan lain dalam penciptaan GGS tersebut adalah soal fiqih. Aisyah mengatakan, dalam Madzhab Syafi'i, yang banyak dianut di Indonesia, jika seseorang ketika salat bergerak lebih dari tiga kali maka salatnya batal.

"Untuk teman-teman tunarungu akan kesulitan mendengar takbir dari imam, tidak jarang dari mereka sering menoleh untuk mengetahui gerak imam. Karena pertimbangan fiqih tersebut, kami lahirkan GGS," katanya.

Biaya produksi gelang itu, imbuh Aisyah, sekitar Rp 6 juta. Namun bisa menyusut bila diproduksi secara banyak.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo tampak tertarik dengan GGS. Dia pun ingin coba memasang gelang makmum itu di pergelangannya.

Setelah dicoba, Ganjar mengatakan ada getaran-getaran saat pemakai gelang imam bergerak.

"Ini luar biasa. Tapi akan jadi sepele bagi orang yang tidak ngerti, idenya yang luar biasa," kata Ganjar.

Politisi PDIP itu menyarankan ada penyempurnaan GGS. Misalnya, ada pendeteksi perbedaan gerakan salat dan getaran pengingat waktu salat. (Daniel Ari Purnomo)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved