Usia sudah 85 Tahun, Mbah Suratman masih Rajin Bersih-bersih Makam
Seorang kakek bernama Mbah Suratman (85) masih tampak rajin membersihkan makam-makam di TPU Bergota Kota Semarang.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang kakek bernama Mbah Suratman (85) masih tampak rajin membersihkan makam-makam di TPU Bergota Kota Semarang.
Usianya yang sudah sepuh tak menghalangi kegiatannya sehari-hari sebagai juru kunci sekaligus membersihkan tempat keramat dan makam.
Profesi itu dijalani sejak lama dan dia mengaku tak mengutamakan penghasilan memang tak ada gaji untuknya.
Mbah Suratman, lahir 1 Agustus 1933 memiliki 11 anak dan tinggal bersama istri tercintanya di sebuah tempat tinggal tidak jauh dari kawasan Makam Bergota, Kota Semarang.
Dulu Mbah Suratman adalah perawat di salah satu RS swasta di Kota Semarang.
Hingga masa kerja itu usai, tahun 1964 Mbah Suratman menikmati masa tuanya sekaligus mendapat kesempatan menjadi Tukang Kijing (batu nisan) dan juru kunci Makam Bergota.
Lahan makam sekitar 3 hektar menjadi area Mbah Ratman mengabdikan diri untuk bersih-bersih makam setiap hari.
Selain itu, ia juga membuat kijing jika ada yang memesan.
“Kalau pagi yaa sekitar jam 7 saya ke makam bersih-bersih nanti jam 12
pulang istirahat, terus abis ashar biasanya ke makam lagi” ujar sesepuh juru kunci makam Bergota tersebut.
Pekerjaan ini ia tekuni dengan penuh ketulusan tanpa mengharap imbalan. Terkadang jika ada yang sedang melayat, ia enggan menerima “amplop” yang diberikan kepadanya.
Dia menuturkan, sengaja mengabdikan diri merawat makam-makam sebagai amalan yang ia tanam.
Dirinya merasa senang jika bisa membantu orang lain, bukan soal berapa banyak rupiah yang akan ia dapatkan namun seberapa banyak hal yang bisa ia bantu.
“Semua pekerjaan itu mulia, asal kita senang dan ikhlas menjalaninya," terangnya kepada tim magang Tribunjateng.com, Rabu 19 September 2018.
Ia berkali-kali menegaskan bahwa uang bukan tolok ukur kebahagiaan seseorang.
"Syukuri apa yang ada, itu kebahagiaan hakiki. Kunci dari itu semua adalah bakti terhadap orangtua," ujar Mbah Suratman.
Utamakan untuk berbakti kepada orangtua, apapun kondisinya, karena dari situlah ridho Tuhan akan menyertainya.
“Wong nandur, ngunduh” kata dia. Orang menanam akan menuai. (tribunjateng/mahasiswa Udinus magang/Nadya dan Dheo).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mbah-suratman-rajin-bersihkan-makam-di-bergota_20180921_002820.jpg)