Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ganjar Pranowo Jelaskan Ada Salah Paham Antara Walikota Solo dengan SMKN 6

Setelah diusut, pria yang menginisiasi program Gubernur Mengajar itu menjelaskan ada salah paham antara pihak Walikota Surakarta dengan SMK Negeri 6.

daniel ari purnomo
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo makan malam di Nasi Goreng Pak Karmin usai membuka Festival Kota Lama Semarang di sekitar Jembatan Berok, Jumat (21/9/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berita penahanan ijazah siswa SMK Negeri 6 Surakarta sempat membuat panas kuping Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Setelah diusut, pria yang menginisiasi program Gubernur Mengajar itu menjelaskan ada salah paham antara pihak Walikota Surakarta dengan SMK Negeri 6.

"Kami telah meminta keterangan kepala sekolah itu terkait disposisi bapak walkot (Walikota) untuk dapat memberikan ijazah atasnama Nirwara Hayu Nindya. Setelah di cek ternyata anak tersebut masih kelas XII alias belum lulus," ungkap Ganjar, Jumat (21/9/2018) malam di kawasan Kota Lama Semarang.

Disposisi itu, lanjut Ganjar, dibawa kembali oleh orangtua siswa tersebut kepada Walikota. Saat proses itu terjadilah salah paham.

"Setelah ditelusuri pihak sekolah melalui orangtua murid ternyata bukan masalah ijazah, tetapi orangtua minta keringanan biaya sumbangan dan pihak sekolah sedang proses verifikasi untuk pembebasan sumbangan," jelas Ganjar.

Dia menambahkan, siswa yang dimaksud belum pernah membayar sumbangan semenjak masuk sekolah, namun dipastikan bisa ikut proses belajar dan kegiatan-kegiatan sekolah.

"Saya juga sama kayak Pak Rudi, sering nembusi ijazah begini. Maka saya tegaskan kepada para kepala sekolah jangan pernah coba-coba menahan ijazah, apalagi terhadap mereka yang tidak mampu," tegasnya.

Pun Ganjar menyampaikan banyak menerima protes dari orangtua siswa yang tak mampu, terkait iuran Komite Sekolah.

"Mampunya berapa saya tanya. Ternyata mereka punya kekuatan-kekuatan tersendiri yang tak bisa dipaksakan. Kecuali yang pelit, artinya sugih ning ra gelem nyumbang itu pelit. Nanti kita urus dengan cara yang berbeda," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved