Waspadalah, Begini Gejala-gejala Orang akan Bunuh Diri

Kartika Sari Dewi Psikologi Undip menyatakan bunuh diri merupakan sebuah tindakan kekerasan.

Waspadalah, Begini Gejala-gejala Orang akan Bunuh Diri
tribunjateng/ist
Kartika Sari Dewi, M.Psi., Psikolog Pusat Pemberdayaan Keluarga (PPK) Fakultas Psikologi Undip menyatakan bunuh diri merupakan sebuah tindakan kekerasan. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Amanda Rizqyana

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kartika Sari Dewi, M.Psi., Psikolog Pusat Pemberdayaan Keluarga (PPK) Fakultas Psikologi Undip menyatakan bunuh diri merupakan sebuah tindakan kekerasan.

Dikatakan Kartika, WHO sejak tahun 2002 menetapkan bunuh diri sebagai salah satu dari tiga jenis perilaku kekerasan, yaitu kekerasan terhadap diri sendiri (self-directed violence), selain kekerasan antarindividu, dan kekerasan kolektif.

Perilaku bunuh diri mencakup percobaan bunuh diri hingga perilaku bunuh diri yang seutuhnya.

Pada Tahun 2016, kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 5,2 per 100.000 penduduk dan diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Penyebab utama bunuh diri seringkali sulit diungkap. Bunuh diri merupakan kasus yang sangat kompleks dan heterogen.

"Namun, kasus-kasus bunuh diri paling sering terjadi akibat distres yang berkepanjangan dan telah dirasakan begitu berat oleh penderitanya, seperti akibat kemiskinan, terbelit masalah yang dianggap rumit, atau kondisi medis yang memburuk," ujar Kartika.

Ditambahkan, bunuh diri juga seringkali dikaitkan dengan gangguan pada kesehatan mental seseorang, seperti depresi dan psikotik. Dalam hal ini, bunuh diri merupakan gejala sertaan dari gangguan tersebut.

Resiko bunuh diri juga dapat meningkat pada kasus kecemasan kronis atau ketergantungan zat adiktif yang tidak tertangani. Pada dasarnya, orang-orang dengan risiko tinggi bunuh diri adalah mereka yang merasa tidak memiliki lagi solusi untuk permasalahan yang dihadapinya.

Dan upaya pencegahan bunuh diri dapat dilakukan secara mandiri dengan selalu menjaga kondisi kesehatan mentalnya, serta peran lingkungan sosial untuk mengenali gejala-gejala bunuh diri dalam perkataan, perilaku, dan mood calon korban bunuh diri.

Menurut American Foundation for Suicide Prevention (AFSP), terdapat beberapa gejala atau tanda-tanda seseorang yang beresiko tinggi melakukan bunuh diri

Antara lain balam berbicara atau mengungkapkan isi hati dengan tulisan, dia cenderung merasa sudah menjadi beban bagi orang lain, merasa tidak berguna/terkekang/tertekan/terpenjara.

Calon korban juga seringkali mengeluhkan sakit fisik/batin yang sudah tak tertahankan lagi, serta mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak memiliki alasan hidup atau sangat ingin tahu rasanya mati.

Sedangkan dalam berperilaku, tidak jarang mereka menunjukkan perilaku beresiko menyakiti diri, seperti penyalahgunaan zat dan alkohol, bertindak ceroboh, berubah agresif atau melukai diri.

Aktivitasnya pun seringkali menjadi menarik diri dari pergaulan atau malah sebaliknya dengan tujuan “berpamitan”.

"Mood yang seringkali ditampilkan adalah kondisi kehilangan semangat dan gairah hidup, sensitif dan mudah tersinggung, diliputi kecemasan dan rendah diri," tambahnya. (*)

Penulis: amanda rizqyana
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved