5 Langkah Liga Inggris untuk Perangi Kekerasan Suporter

Pemerintah Inggris beserta badan-badan terkait terbukti berhasil membenahi sepak bola mereka.

5 Langkah Liga Inggris untuk Perangi Kekerasan Suporter
AFP/OLI SCARFF
Polisi Inggris memisahkan fans Manchester United dari fans Manchester City seusai berakhirnya laga Liga Inggris antara Manchester City dan Manchester United di Stadion Etihad, Mancehster, pada 20 Maret 2016. 

TRIBUNJATENG.COM - Liga 1 2018 dibekukan sebagai tindak lanjut meninggalnya suporter Persija, Haringga Sirla, jelang laga Persib vs Persija pada Minggu (23/9/2018).

PSSI dan pemerintah belum memberikan solusi pasti untuk mencegah insiden tragis ini kembali terulang ke depannya.

Suporter Persija asal Cengkareng, Haringga Sirla, menjadi korban pengeroyokan oleh oknum suporter di Stadion Gelora Bandung Lautan Api jelang laga Persib Bandung kontra PersijaJakarta.

PSSI dan Ketua Umum Edy Rahmayadi berjanji akan mengurus tuntas insiden kekerasan tersebut plus mencari SOP (Standard Operating Procedure) tepat agar tidak ada lagi kejadian-kejadian tragis seperti ini.

Seperti Indonesia, Liga Inggris juga pernah menemui masalah dengan kekerasan suporter. Hooliganisme merambah negeri Ratu Elizabeth II itu pada 1970-1980-an.

Namun, pemerintah Inggris beserta badan-badan terkait terbukti berhasil membenahi sepak bola mereka.

Berikut rangkuman dari dokumen Football Association (PSSI-nya Inggris), 5 pendekatan Liga Inggris untuk mengatasi kerusuhan suporter.

Football Banning Order alias larangan oknum suporter datang ke stadion

Pemerintah Inggris mendirikan Football Banning Orders (FBO) Authority pada 1989.

Badan ini melakukan registrasi terhadap orang-orang yang dilarang menghadiri laga sepak bola di dalam dan luar negeri untuk periode minimal tiga tahun.

Halaman
1234
Editor: suharno
Sumber: BolaSport.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved