Laba Bank Jateng Syariah Hampir 90% Target

Laba Agustus 2018 tercapai Rp 80 miliar dari rencana Rp 54 miliar. Pencapaian tersebut tumbuh 42,07 persen secara tahunan

Laba Bank Jateng Syariah Hampir 90% Target
Ist
Penyerahan secara simbolis mobil jenazah dari Direktur Bisnis Ritel dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng, Hanawijaya, kepada Sekretaris DPP MAJT KH Muhyiddin, di parkir VIP MAJT, Jalan Gajah Raya Kota Semarang, Rabu (23/5/2018). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bank syariah membukukan pertumbuhan cukup menggembirakan. Untuk mencapai target laba yang dipatok, bank syariah terus memacu bisnisnya. Satu di antarnya adalah Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Pembangun Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng).

Hingga Agustus 2018, laba UUS Bank Jateng telah mendekati target laba yang dipatok tahun ini.
Direktur Bisnis Ritel & Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hanawijaya mengatakan, laba UUS Bank Jateng sepanjang delapan bulan pertama tahun ini mencapai Rp 80 miliar. Sedangkan target tahun ini sebesar Rp 90 miliar. Artinya, hingga Agustus lalu UUS Bank Jateng telah mencapai hampir 90 persen.

Pertumbuhan laba itu didukung pembiayaan di sektor konstruksi dan pendidikan. "Laba Agustus 2018 tercapai Rp 80 miliar dari rencana Rp 54 miliar. Pencapaian tersebut tumbuh 42,07 persen secara tahunan atau year on year (yoy)," ujar Hanawijaya, Jumat (28/9).

Di sisi lain, hingga Agustus 2018 pembiayaan UUS Bank Jateng mampu tumbuh 29,85 persen yoy dengan nilai outstanding Rp 2,42 triliun. Dari segi kualitas pembiayaan, Hanawijaya menyatakan masih tetap terjaga. Hal itu tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah atau non perfoming financing (NPF) pada Agustus 2018 di posisi 0,78 persen.

Meski demikian, himpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 1,95 triliun. Menurutnya, nilai tersebut turun 0,45 persen dibanding posisi yang sama tahun lalu. "DPK mengalami perlambatan dikarenakan keluarnya dana dari salah satu prime customer kami. Akan kami optimalkan pada kurtal IV ini," tandasnya.

Pun halnya dengan PT BNI Syariah yang membukukan laba bersih Rp 275 miliar hingga Agustus 2018. Laba bersih itu tumbuh 25,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 219 miliar. Hingga akhir tahun, BNI Syariah menargetkan laba bersih Rp 406,2 miliar.

"Pencapaian laba karena ekspansi pembiayaan secara tahunan bertumbuh sebesar 17,68 persen mencapai Rp 26,6 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 21,9 persen year on year menjadi Rp 33,08 triliun," ujar Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati kemarin.

Kinerja dana pihak ketiga (DPK) BNI Syariah didominasi oleh dana murah atau current account saving account (CASA). Dhias menambahkan, hingga Agustus 2018 rasio CASA mencapai 52,8 persen. Kondisi ini membaik dibandingkan posisi yang sama tahun lalu dimana CASA hanya 48,9 persen.

"Pertumbuhan pembiayaan di satu sisi diikuti dengan pertumbuhan dana murah memberikan dampak terhadap peningkatan NII secara tahunan sebesar 13,9 persen," ucap Dhias.
Tak mau ketinggalan, PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) membukukan laba bersih Rp 144,63 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini. Laba bersih tersebut tumbuh 29,99 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. hingga akhir tahun BRI Syariah menargetkan laba bersih sebesar Rp 225 miliar.

"Pertumbuhan laba bersih dominan masih ditopang oleh pendapatan pembiayaan retail maupun komersial," ujar Indri Tri Handayani, Sekretaris Perusahaan BRI Syariah kepada.
Ke depan, lanjut Indri, BRI Syariah juga akan menggenjot pendapatan di pos lainnya seperti fee based semaksimal mungkin. Sehingga konsentrasi pendapatan tidak bertumpu hanya pada pendapatan atas penyaluran pembiayaan.

"Persentase pencapaian laba yang masih di atas 90 persen diharapkan dapat terus meningkat di sisa bulan menuju akhir tahun 2018. Sehingga target laba akhir tahun tercapai. Peningkatan pencadangan yang dilakukan BRI Syariah untuk memitigasi risiko turut berkontribusi terhadap pencapaian laba," tutur Indri.

Sejalan dengan itu, aset bank tumbuh 18,91 persen year on year (yoy) menjadi Rp 35,84 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, aset BRI Syariah hanya Rp 30,14 triliun. Adapun target aset sepanjang tahun 2018 sebesar Rp 36,98 triliun.

Kenaikan aset itu sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan hingga Agustus 2018 sebesar 13,44 persen yoy menjadi Rp 21,22 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI Syariah tumbuh 10,21 persen yoy menjadi Rp 27,72 triliun. (Tribunjateng/Kontan)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved