Penyelesaian Proyek Normalisasi Sungai BKT Dipercepat, Tapi Ini Kendalanya

Penyelesaian Proyek Normalisasi Sungai BKT Dipercepat, Tapi kendalanya masih ada PKL yang berada di bantaran sungai

Penyelesaian Proyek Normalisasi Sungai BKT Dipercepat, Tapi Ini Kendalanya
tribunjateng/dok
Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana terus melakukan percepatan pengerjaan proyek normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Hingga saat ini, proyek multiyears tersebut baru mencapai 50 persen. Padahal, diharapkan proyek akan selesai Desember 2018 ini.

Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno menuturkan, kendala utama pengerjaan normalisasi Sungai BKT adalah masih adanya bangunan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan hunian di bantaran sungai. Jika bantaran sudah bersih, Ruhban optimistis normalisasi akan selesai Desember 2018 sebagaimana instruksi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Meskipun, kata Ruhban, sebenarnya berdasarkan kontrak kerja, proyek yang dikerjakan mulai 2017 lalu itu baru akan selesai 2019 mendatang. Menteri PUPR menginginkan adanya percepatan sehingga penyelesaian ditarget Desember 2018.

"Progresnya saat ini sudah 50 persen. Kita cuma kendalanya di masalah sosial saja, yaitu masih adanya bangunan di bantaran sungai. Kalau relokasi selesai, cepat sekali progresnya," kata Ruhban, Minggu (30/9/2018).

Progres tersebut merupakan progres keseluruhan dari tiga paket pekerjaan normalisasi Sungai BKT. Ia memaparkan, paket I dimulai dari muara sungai hingga Jembatan Kaligawe sepanjang 1,95 km. Paket II dari jembatan Kaligawe hingga Jembatan Citarum dengan panjang 2,05 km, dan paket III mulai dari Jembatan Citarum sampai Jembatan Majapahit dengan panjang 2,7 km.

Saat ini, diakuinya, PKL dan warga yang menghuni bantaran sungai mulai direlokasi secara bertahap. Ia berharap, relokasi tidak berlarut-larut agar proyek senilai Rp 485 miliar tersebut bisa lancar.

"Sudah ada kesepakatan. Mereka pindah ke kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang sudah kita ratakan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Ruhban menerangkan, saat ini pelaksana proyek sedang fokus pada pembangunan titik in-stream atau alur sungai. Kemudian, revetment atau struktur pelindung sedang dibangun untuk bagian plengsengan sungai.

"Pekerjaan tanah kan sudah 90 persen, tanah yang dulu diangkut banyak sekali itu. Tinggal revetmentnya ini, menghindari nanti kalau hujan turun, pekerjaan harus sudah beres. Baru nanti kita bicara parapet," tambahnya.

Seperti diketahui, proyek normalisasi sungai BKT membentang sepanjang 6,7 kilometer dan dikerjakan oleh tiga kontraktor sekaligus. Dimulai dari muara sungai hingga Jembatan Majapahit dan ke depannya bisa segera menanggulangi masalah banjir yang saat ini bersifat mendesak.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan, saat ini tersisa ratusan PKL dan hunian di empat Kelurahan dari total 12 Kelurahan yang menghuni bantaran Sungai BKT. Keempat Kelurahan tersebut yakni Mlatiharjo, Rejosari, Bugangan dan Karangtempel.

Fajar menargetkan seluruh bangunan PKL dan hunian di keempat Kelurahan, rata tanah pada pertengahan Oktober ini. Fajar optimistis mampu mencapai target tersebut karena saat ini para PKL mulai pindah dan membangun sendiri lapak dagangan di tempat relokasi. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved