Politikus PDIP: Hoaks Ratna Menguras Perhatian Publik yang Mestinya ke Bencana di Sulteng

Menyadarkan publik memang ada individu maupun kelompok tertentu yang memproduksi kebohongan untuk disebarkan dan mengacau publik.

Politikus PDIP: Hoaks Ratna Menguras Perhatian Publik yang Mestinya ke Bencana di Sulteng
ISTIMEWA
Prabowo dan Ratna Sarumpaet 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, mengatakan, kasus Ratna Sarumpaet seharusnya menyadarkan publik memang ada individu maupun kelompok-kelompok tertentu yang memproduksi kebohongan untuk disebarkan dan mengacau publik.

"Kasus Ratna Sarumpaet menyadarkan kita betapa kejinya rekayasa informasi yang dibuat oleh seorang Ratna Sarumpaet didukung oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan-kepentingan berkampanye, mendiskreditkan pihak lain, termasuk mem-black campaign presiden Jokowi, seolah-olah Jokowi lah yang memerintahkan orang untuk menganiaya Ratna Sarumpaet," ujar anggota DPR RI ini kepada Tribunnews.com, Kamis (4/10/2018).

Sangat disayangkan, kata dia, kebohongan Ratna Sarumpaet ini telah menyibukan pihak kepolisian dan menguras perhatian publik yang seharusnnya lebih memperhatikan kasus bencana dan bersama-sama memulihkan kembali Sulteng.

Baca: Dituduh Konspirasi Soal Ratna Sarumpaet, 17 Tokoh Dilaporkan ke Bareskrim, Ini Nama-namanya

Dampak permainan teaterikal Ratna Sarumpaet ini juga menyebabkan tokoh-tokoh sekelas Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang wakil ketua DPR, Amien Rais, Rizal Ramli, Dahnil Simanjuntak, bahkan Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto yang Cawapres/Capres ikut terjebak dalam permainan kebohongannya.

Pun, imbuhnya, mereka ikut-ikutan memberikan perhatian pada Ratna Sarumpaet di tengah bencana Sulteng yang seharusnya membutuhkan perhatian pemimpin ketimbang kebohongan seorang pemain teater RS.

"Semoga mereka yang juga terjebak dalam kebohongan Ratna Sarumpaet juga berani meminta maaf ke publik seperti Ratna Sarumpaet," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, sejumlah elite politik dan politisi ramai-ramai meminta maaf atas pernyataan yang sebelumnya dibuat terkait dugaan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet.

Belakangan, mereka, dan juga publik, baru mengetahui bahwa Ratna hanya merekayasa cerita soal penganiayaan itu.

Saat kabar penganiayaan itu mencuat, kubu Prabowo-Sandiaga yang paling vokal terhadap kasus ini. Diawali pengakuan Wakil Ketua Tim Sukses Nanik S Deyang, dikuatkan dengan pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, hingga puncaknya pernyataan keras dari Prabowo.

Baca: Soal Kasus Ratna Sarumpaet, Prabowo: Ini Ancaman Sangat Serius Terhadap Demokrasi

Baca: Prabowo Menduga Ada Motif Politik Terkait Dugaan Penganiayaan Ratna Sarumpaet

Prabowo, yang mengaku sudah bertemu Ratna, menuding penganiayaan terhadap salah satu tim suksesnya itu adalah hal pengecut.

Dia menduga ada kepentingan politik di balik peristiwa itu. 
Namun, keesokan harinya, polisi mulai menemukan titik terang soal kasus penganiayaan yang tak pernah dilaporkan ke polisi itu. Hasilnya, semua yang ditemukan polisi sama sekali berbeda dengan cerita Ratna.

Usai Ratna Sarumpaet mengakui dirinya berbohong, Prabowo, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Hanum Rais, Rahel Maryam, Ferdinand Hutahaean meminta maaf.(*)

Editor: m nur huda
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved