Anak-Anak Ratna Sarumpaet Gagal Bertemu Sang Ibu di Tahanan

Anak-anak tersangka Ratna Sarumpaet, gagal bertemu ibu mereka di tahanan Polda Metro Jaya, Sabtu (6/10) siang.

Anak-Anak Ratna Sarumpaet Gagal Bertemu Sang Ibu di Tahanan
KOMPAS.com/DAVID OLIVER PURBA
Ratna Sarumpaet 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Anak tersangka Ratna Sarumpaet, Muhammad Iqbal Alhany dan Ibrahim Alhany, gagal bertemu ibu mereka yang ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (6/10) siang. Mereka membawa makanan kesukaan Ratna Sarumpaet yaitu beras merah untuk keperluan diet.

"Kami bawakan makanan kesukaan beliau, makanan diet yaitu beras merah," jelas Iqbal yang saat itu mengenakan kemeja merah. Mereka akan kembali mengunjungi Ratna pada Senin (8/10). Iqbal menambahkan sang adik, aktris Atiqah Hasiholan, juga berniat menjenguk sang ibu.

"Atiqah juga sudah punya rencana untuk menjenguk tapi pastinya kapan belum tahu karena dari pihak penyidik juga belum memperbolehkan. Pada Senin mendatang kami akan datang lagi," katanya. Iqbal mengatakan hari besuk di Polda Metro Jaya yaitu Senin-Kamis.

Ratna Sarumpaet dijaring sebagai tersangka dan menjadi tahanan setelah melakukan kebohongan. Ratna mengaku menjadi korban penganiayaan di Bandung pada 21 September 2018 lalu, namun belakangan diketahui lebam-lebam di wajahnya merupakan hasil operasi plastik di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Mantan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Parabowo-Sandiaga Uno tersebut ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis malam, ketika hendak terbang ke Santiago, Chile, untuk menghadiri acara internasional. Terungkap, Ratna berangkat ke Chile menggunakan dana bantuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 70 juta.

Terkait penahanannya, Ratna Sarumpaet melalui penasihat hukum Insank Nasruddin mengajukan permohonan sebagai tahanan kota kepada penyidik. "Pengajuannya sekalian hari ini (Sabtu) karena Ibu Ratna rencananya diperiksa kembali siang ini. Jika tidak ada halangan akan langsung kami ajukan," jelas Insank.

Ia menegaskan pengajuan baru bisa dilakukan pada Sabtu karena waktu penetapan tersangka kepada Ratna baru dilakukan pada Jumat malam.

Hari hoax

Heboh kasus Ratna Sarumpaet membuat Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengusulkan agar tanggal 3 Oktober diperingati sebagai hari hoax nasional. Direktur LPI, Boni Hargens, dan anggota LPI membacakan langsung usulan itu saat diskusi bertema Politik Kebohongan dan Demokrasi Elektoral, di kawasan Setia Budi, Kuningan, Jakarta, Sabtu.

"Politik kebencian bisa meluluhlantakan seluruh bangunan peradaban kita sebagai bangsa dan masyarakat manusia. Untuk itu, Lembaga Pemilih Indonesia menyarankan, baiklah kita mempertimbangkan 3 Oktober sebagai Hari Hoaks Nasional," kata Boni Hargens yang diikuti oleh para anggota LPI.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved