Liputan Khusus
Alasan Kenapa Baru Sebagian Desa Wisata Jateng Yang Menjadi Langganan Wisatawan Asing
Daya tarik desa wisata yang ada di Jateng masih perlu dipacu, apalagi jika ingin bisa merambah segmen pasar internasional.
TRIBUNJATENG.COM -- Daya tarik desa wisata yang ada di Jateng masih perlu dipacu, apalagi jika ingin bisa merambah segmen pasar internasional.
Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Asita) Jateng, Joko Suratno, Minggu (7/10).
Menurut dia, dari 300 lebih desa wisata di Jateng, baru sebagian yang menjadi langganan wisatawan asing, seperti Desa Candirejo di kawasan Borobudur Magelang, Desa Menari di Salatiga, Desa Karangbanjar di Banyumas, dan Desa Wisata Dieng di Wonosobo.
"Selebihya, sejumlah desa wisata yang ada cenderung hanya dinimkati wisatawan dalam negeri. Bahkan, ada yang keberadaanya hingga kini tidak dikenal masyarakat," katanya, kepada Tribun Jateng.
Jika ingin desa wisata itu laku di pasar internasional, Joko menuturkan, pegelola harus memasukkan unsur kebudayaan dalam destinasi wisata yang mereka miliki. Sebab, selain suasana alam, pelancong ekspatriat paling gemar melihat keunikan budaya di lokasi itu.
"Kecuali jika memang pengelola hanya membudik segmen wisatawan dalam negeri, maka memasukan unsur kebudayaan tidak begitu penting. Meski demikian, mengelola desa wisata yang membudik segmen dalam negeri juga tidak bisa asal-asalan," paparnya.
Joko menyatakan, problem lain dalam pengembangan desa wisata adalah kurangnya kreativitas dan kepekaan menangkap potensi yang dimiliki. Mereka cenderung latah dan hanya memunculkan wahana yang pasaran.
Hal itu seperti edukasi bercocok tanam yang hampir dimiliki semua desa-desa wisata lain. Kondisi itu jelas membuat keberadaan mereka tidak begitu menarik bagi pelaku bisnis travel agent.
Sehingga, dia menambahkan, penting sekali harus ada sesuatu yang unik dan berbeda dibandingkan dengan lokasi lain.
“Biasanya pengelolaan desa wisata juga kurang dalam hal pengemasan paket. Sebetulnya desa itu memiliki potensi, cuma pengemasan kurang menarik dan sama dengan desa lain. Misalnya ramai-ramai menanam padi dan hanya di sekitar itu, padahal ada potensi lain,” jelasnya.
Ia mencontohkan kepekaan menanggap peluang itu misalnya dengan membidik desa tempat tinggal peraih medali emas Asian Games cabang olahraga panjat tebing yang ada di Purwodadi.
Menurut dia, desa di sana bisa dibuatkan tempat outbond dan pelatihan memanjat tebing. Sehingga, hal itu menjadi keunikan dan tidak dimiliki desa wisata lain.
Joko berujar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat desa wisata. Pertama sebelum desa wisata itu dipromosikan harus memiliki atraksi daya tarik yang berbeda dan memiliki keunikan tersendiri.
Kemudian infrastruktur sarana dan prasarana seperti homestay, MCK harus dipersiapkan. Jika hal itu bisa dilakukan, geliat ekonomi desa wisata akan bergerak, dan masyarakat sekitar akan menerima imbas positif, khususnya dalam hal kesejahteraan.
“Ketiga akses menuju ke desa wisata. Setelah itu semua siap, maka baru dipromosikan, bisa lewat media sosial atau cara konvensional dengan menawarkan ke travel agent dan mengikuti kegiatan pameran,” ujarnya.
Sejauh ini, Joko mengungkapkan, peran pemerintah dalam pengembangan desa wisata sudah cukup baik, seperti kerap memberikan pelatihan, pembinaan, dan bimbingan. Hal itu patut dipreasiasi, dan semoga bisa terus ditingkatkan, khususnya guna menguatkan SDM. (tim)