Breaking News:

LIPUTAN KHUSUS: Tour Guide dan Geliat Desa Wisata di Jateng Tumbuhkan Kemandirian Ekonomi Warga

Pengelolaan potensi wisata berbagai desa di Jateng memacu kreativitas dan geliat roda ekonomi masyarakat setempat.

TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI
Desa wisata 

Ia menuturkan, Sungai Lasem punya daya tarik wisata sejarah yang kuat‎. Terdapat beberapa titik di sekitar sungai itu yang dulunya menjadi galangan kapal, sejak zaman Vereenigde Oostindiscche Compagnie (VOC) hingga penjajahan Jepang.

"‎Sungai ini juga merupakan pintu masuk candu ke Lasem. Sisa-sisa bekas galangan kapal masih bisa kita lihat saat susur sungai," tuturnya.‎

Belum maksimal

Kepala Desa (Kades) Dasun, Sujarwo menyatakan, ‎Dasun sejatinya punya banyak potensi untuk dikembangkan, hanya saja selama ini belum tergarap dengan maksimal.

Dengan kondisi itu, ia pun membulatkan tekad untuk memaksimalkan berbagai potensi yang ada. Hal itu dimulai dari pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) setempat pada 2013.

Selain itu, dia menambahkan, secara bertahap pihanya membangun warung apung dan gedung serba guna pada 2015-2017.
"Pada 2016 kami adakan kirab wisata, dan deklarasi menjadi desa wisata, setelah sebelumnya kami banyak belajar dari berbagai desa wisata yang telah eksis di berbagai daerah di Indonesia. Waktu itu dananya ya dari swadaya dan kantong pribadi," jelasnya.
Kini, Sujarwo berujar, Dasun telah bergerak maju. Usai deklarasi menjadi desa wisata pada akhir 2016, pada tahun selanjutnya secara resmi terbentuk Pokdarwis Pesona Bahari.

Selain itu, terdapat kelompok Dasun Rahayu‎, kumpulan para pengusaha muda yang memasok berbagai produk untuk menunjang geliat pariwisata di Dasun.

Selain itu, dia menambahkan, telah berdiri Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang total mempunyai 23 karyawan. BUMDes Karya Bahari Dasun saat ini mempunyai tiga unit usaha, yaitu pengelolaan RTH, Warung Apung, dan Gedung Serba Guna.
"Dari semula penghasilan asli desa (PAD) kami sangat minim, bahkan kadang nol rupiah karena hanya mengandalkan hasil garam, kini minimal bisa meraih Rp 10 juta/bulan," tuturnya.

Meski demikian, Sujarwo mengungkapkan, perhatian dan pembinaan dari Pemkab Rembang dinilai belum maksimal. Beberapa program untuk menunjang aktivitas desa wisata yang telah diajukan hingga kini belum terealisasi.

"Ada beberapa titik gunungan sampah di sepanjang Sungai Lasem yang bisa membuat kurang nyaman para wisatawan saat susur sungai. Kami butuh itu segera ditangani, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda direalisasikan," ucapnya.‎

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved