Turunnya Cadangan Devisa Makin Tekan Rupiah Plus Kenaikkan Harga Minyak

Kurs rupiah masih terkulai lemah. Jumat lalu (5/10), di pasar spot, kurs rupiah bahkan menyentuh level Rp 15.183 per dollar AS

Turunnya Cadangan Devisa Makin Tekan Rupiah Plus Kenaikkan Harga Minyak
Antara Foto/Sigid Kurniawan
IHSG 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kurs rupiah masih terkulai lemah. Jumat lalu (5/10), di pasar spot, kurs rupiah bahkan menyentuh level Rp 15.183 per dollar Amerika Serikat (AS) atau terkoreksi tipis 0,03 persen. Tidak berbeda jauh, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan pelemahan 0,32 persen pada Rp 15.182 per dollar AS.

Rupiah diprediksi akan semakin tertekan setelah Bank Indonesia (BI) merilis cadangan devisa yang menurun 2,61 persen atau hampir 3,1 miliar dollar AS menjadi 114,8 miliar dollar AS. Penurunan cadangan devisa itu lantaran digunakan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Namun dalam pernyataan resminya, BI masih meyakini, nilai cadangan devisa saat ini masih dapat menjaga stabilitas perekonomian khususnya makroekonomi, sektor eksternal dan sistem keuangan.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro mengatakan, fokus sentimen terhadap rupiah akan mengarah ke domestik. Ia menyebut tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih akan cukup besar pada Senin (8/10) hari ini. Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di level Rp 15.100-Rp 15.200 per dollar AS hari ini.

“Selain itu pelebaran defisit neraca perdagangan di September 2018 juga menjadi kekhawatiran pelaku pasar, terutama besarnya mismatch supply-demand valas,” jelasnya. Data neraca perdagangan September rencananya akan dirilis pada 16 Oktober mendatang.

Sementara Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong, mengatakan, terkoreksinya nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh indeks dollar yang masih berpotensi menguat. Per Minggu (7/10) pukul 12.37, indeks dollar berada di level 95,31.

Selain itu kenaikan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga akan menjadi sentimen penekan bagi rupiah. Kamis pekan lalu (4/10), harga minyak WTI mencapai 76,67 dollar AS per barel. Walaupun demikain, kedua analis tetap memprediksi BI akan terus melakukan intervensi untuk memperlambat rupiah yang terus terdepresiasi.

“Ada harapan bagi rupiah untuk stabil karena komitmen BI yang akan tetap melakukan intervensi yang agresif untuk menstabilkan nilai tukar. Rupiah akan bergerak di level Rp 15.175 dan Rp 15.250,” jelas Satria.

Sementara ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menambahkan, pelemahan rupiah telah terjadi secara konsisten hingga akhir September. Naiknya suku bunga acuan Bank Indonesia dan intervensi cadangan devisa kali ini rupanya tak mempan mengendalikan rupiah.

Menurut Bhima, ada sejumlah faktor yang membuat rupiah kian melemah. Pertama, faktor global dipengaruhi oleh Yield Treasury 10 tahun atau surat utang AS yang telah mencapai 3,23 persen. "Hal ini menandakan ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi dunia dalam jangka panjang cenderung memburuk. Investor memburu instrumen utang AS sebagai flight to quality atau mencari aset yang aman," ujar Bhima, Minggu (7/10).

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved