Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Anjlok Terendah Sejak Juli 1998, Ada Apa Ini?

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, pelemahan terjadi karena tingkat pengangguran AS bulan September

Rupiah Anjlok Terendah Sejak Juli 1998, Ada Apa Ini?
Kompas.com
Sri Mulyani 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum juga bangkit. Bahkan, Senin (8/10) ciamiknya data tenaga kerja AS bikin mata uang kian tersungkur.

Kemarin, kurs spot rupiah anjlok hingga 0,23 persen jadi Rp 15.218 per dolar AS.

Ini jadi level terendah mata uang Garuda sejak Juli 1998.

Sejalan, rupiah pada kurs tengah Bank Indonesia pun terdepresiasi 0,07 persen menjadi Rp 15.193 per dolar AS.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, pelemahan terjadi karena tingkat pengangguran AS bulan September membaik ke level 3,7 persen. Hal itu jadi posisi terendah sejak tahun 1970 lalu. Data tersebut juga membuat indeks dolar AS melesat.

Tingkat pengangguran itu juga mengonfirmasi pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell mengenai kondisi perekonomian Negeri Paman Sam yang cenderung membaik dan berpotensi mendorong kenaikan inflasi.

"Data ini juga mendukung kenaikan suku bunga AS lebih agresif dalam jangka pendek," ujar dia.

Alhasil, posisi the greenback tak tertahankan. Sebagian besar mata uang Asia juga melemah setelah People's Bank of China memangkas Giro Wajib Minimum sebesar 1 persen. Josua memprediksi, rupiah pada Selasa (9/10) hari ini tetap tertekan di level Rp 15.150-Rp 15.350 per dolar AS

Sementara analis Asia Trade Point Futures Andri Hardianto menambahkan, dari dalam negeri, rupiah tertekan kenaikan harga minyak dunia yang diperkirakan bakal memperlebar defisit transaksi berjalan. Namun, ia menambahkan, rupiah masih punya peluang untuk menguat walau hanya secara teknis.

"Jika sudah menyentuh angka psikologisnya, bisa terjadi rebound," terang Andri yang memperkirakan rupiah berada di rentang Rp 15.150-Rp 15.220 per dolar AS hari ini.

Hal senada juga dikatakan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Menurutnya, pendorong utama semakin dalamnya pelemahan rupiah adalah dinamika perekonomian di Amerika Serikat.

"Kita lihat data di AS, dipicu oleh yield 10 tahun bond mereka yang meningkat luar biasa tajam sudah di atas 3,4 persen. Jadi, kami melihat dinamika ekonomi di AS itu masih sangat mendominasi dan pergerakannya cepat sekali," kata dia di tengah-tengah acara Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10).

Sri Mulyani menjelaskan, dulu ambang batas psikologis untuk yield atau imbal hasil bond AS 10 tahun adalah 3 persen. Sehingga, ketika sudah mendekati 3 persen, muncul yang disebut sebagai reaksi terhadap seluruh nilai tukar dan suku bunga internasional. Terlebih, kondisi saat ini sudah di atas 3 persen.

"Jadi, kami sudah sampaikan berkali-kali, di mana kenaikan suku bunga global, terutama AS, itu pasti terjadi, dan mungkin akan lebih cepat. Oleh karena itu, harus dilakukan penyesuaian baik di dalam strategi pembangunan dan dalam bentuk nilai tukar," sambungnya. (tribunjateng/Kompas.com/Kontan)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved