Fredrich Yunadi Mantan Pengacara Setnov Tetap Diganjar 7 Tahun

Fredrich dinyatakan terbukti merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP Setya Novanto yang ditangani KPK

Fredrich Yunadi Mantan Pengacara Setnov Tetap Diganjar 7 Tahun
ISTIMEWA
Mantan pengacara Setya Novanto Fredrich Yunadi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengeluarkan putusan banding kasus mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi. Fredrich dinyatakan terbukti merintangi penyidikan kasus korupsi KTP elektronik (e-KTP) Setya Novanto yang ditangani KPK dan dihukum tujuh tahun penjara.

"Menguatkan putusan pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nomor 9/Pid.sus-TPK/2018/PN.Jkt.Pst tanggal 28 Juni 2018 yang dimintakan banding tersebut," demikian amar putusan PT DKI Jakarta seperti dikutip, Rabu (10/10).

Selain itu, PT DKI menguatkan putusan sela dalam perkara tersebut. Putusan sela itu sebelumnya menolak nota keberatan atau eksepsi dari Fredrich.

Eksepsi Fredrich yakni menyebut Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang didakwakan padanya bukan delik khusus, melainkan tindak pidana umum serta profesi advokat tidak bisa dikenakan pidana.

Sidang banding perkara ini dipimpin ketua majelis hakim Ester Siregar, yang beranggotakan hakim I Nyoman Sutama, James Butar butar, Anthon R Saragih dan Jeldi Ramadhan. Namun ada perbedaan pendapat atau dissenting opinion dari seorang hakim mengenai profesi advokat.

Dalam putusan banding kasus Fredrich Yunadi ini, hakim Jeldi Ramadhan menyatakan dissenting opinion atau beda pendapat. Dia tidak sependapat dengan putusan majelis hakim mengenai lamanya masa hukuman untuk Fredrich karena terlalu ringan sehingga belum memenuhi rasa keadilan.

Menurutnya, Fredrich sebagai advokat mempunyai kedudukan setara dengan penegak hukum lainnya sesuai Pasal 5 dalam UU Nomor 18 tahun 2013. Namun, dalam fakta persidangan, Fredrich melakukan kebohongan muai dari keberadaan Novanto hingga merekayasa kecelakaan secara sistematis. Menurutnya, Fredrich Yunadi laik dihukum 10 tahun penjara atas perbuatannya.

Jaksa dari KPK, M Takdir Subhan mengaku pihaknya telah menerima putusan banding PT DKI Jakarta itu.

Menurutnya, dalam putusan itu, majelis hakim Pengadilan Tinggi mengambil alih semua fakta persidangan tingkat pertama. Namun, pihaknya tetap akan mempelajari putusan tersebut guna menentukan langkah hukum lanjutan.

Diketahui di pengadilan tingkat pertama, Fredrich Yunadi yang juga mantan pengacara Setya Novanto divonis 7 tahun penjara dan diwajibkan membayar denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan.

Fredrich dinilai terbukti merintangi proses penyidikan kasus e-KTP Setya Novanto yang dilakukan oleh KPK.

Putusan itu lebih rendah dari tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, yaitu 12 tahun penjara dan membayar denda Rp 600 juta subsider 6 bulan kurungan.

Dalam putusan, majelis hakim menilai perbuatan Fredrich memenuhi unsur mencegah, merintangi, mengagalkan penyidikan secara langsung atau tidak Iangsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa.

Fredrich dengan kewenangannya sebagai pengacara melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat inap di Rumah Sakit Medika Permata Hijau Jakarta. Fredrich sudah memesan kamar pasien terlebih dahulu, sebelum Novanto mengalami kecelakaan pada 16 November 2017.

Fredrich juga meminta dokter RS Permata Hijau untuk merekayasa data medis Setya Novanto. Upaya itu dilakukan dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik KPK. Saat itu, Setya Novanto telah berstatus sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan e-KTP di KPK. (tribunjateng/tribun network/fel/dtc)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved