Suwandi Minta Pemkot Pikirkan Nasib Ratusan Wanita Penghibur di SK

Pengelola Resosialisasi Argorejo Suwandi Minta Pemkot Pikirkan Nasib Ratusan Wanita Penghibur di SK

Suwandi Minta Pemkot Pikirkan Nasib Ratusan Wanita Penghibur di SK
tribunjateng/zaenal arifin/dok
Kepala Dinsospora Gurun Risyadwoko memberi penyuluhan kepada para PSK di Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pengelola Resosialisasi Argorejo atau Lokalisasi Sunan kuning (SK), Suwandi, meminta Pemkot Semarang memikirkan nasib para pekerja di kawasan SK. Sehingga ia meminta penutupan SK yang direncanakan dilakukan pada 2019 mendatang dilakukan secara bijaksana.

"Dalam penutupan ini harus dikembalikan secara manusiawi agar warga Argorejo tidak sengsara pasca penutupan. Artinya mereka harus punya modal, harus punya keterampilan sampai mendalam," kata Suwandi, Jumat (12/10).

Dikatakannya, kawasan yang ada di RW 4 Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat tersebut menampung 486 warga binaan. Mereka berprofesi sebagai wanita penghibur dan pemandu karaoke.

Suwandi yang juga Ketua RW 6, menyebut pada intinya menerima penutupan sesuai program pemerintah pusat. Hanya saja, bagaimana caranya pemerintah agar penghasilan warganya tidak terputus.

"Sebagai ketua RW tetap saya bertanggungjawab melindungi. Artinya caranya bagaimana, sehingga penghasilan itu jangan sampai terputus, jangan menjadi kesengsaraan bagi warga saya," harapnya.

Untuk itu, sejak tahun 2016 pihaknya membuat program pemberdayaan warga untuk pengentasan saat penutupan pada 2019. Di antaranya program wajib menabung tiap seminggu sekali minimal Rp 50 ribu per warga.

"Kami amankan penghasilan mereka dengan wajib menabung, hasilnya luar biasa dalam dua sampai tiga tahun sudah ada yang bisa sampai seratus jutaan," terang Suwandi.
Dari hasil uang terebut, mereka yang minimal dapat Rp 50 juta untuk dibuat usaha di kampung halaman dengan berubah profesi.

"Ada yang buat salon kecantikan, tata boga dan lainnya. Ini berhasil, ada beberapa yang pulang kampung dan buka usaha dengan modal itu," katanya.

Sementara, untuk menjaga kesehatan warga Resos Argorejo rutin dilakukan skrening kesehatan dan rest HIV / AIDS. Hasilnya, klaim Suwandi sampai sekarang tak ada yang terindikasi positif HIV / AIDS.

"Ini kami juga membantu program pemerintah dalam pencegahan HIV / AIDS, pemerintah juga selayaknya membantu kami agar warga bisa entas dengan keterampilan yang benar-benar menjadi pijakan memacari uang," katanya.

Terkait komunikasi dengan pemerintah kota Semarang, Suwandi mengaku belum mendapat kabar terkahir kapan pastinya Resos Argorejo akan ditutup pada 2019.

"Belum ada info terakhir, warga kami juga sebenarnya protes dengar penutupan ini, ya mereka kehidupan selanjutnya mau kemana, dia takut menjadi berkeliaran dimana mana, sehingga penyakitnya bagaimana itu menjadi momok," katanya. (tribunjateng/nal)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved