Pelaku Pasar Tunggu Pengumuman BI Rate

pergerakan rupiah pada Senin (22/10/2018) masih dipengaruhi sentimen eksternal

Pelaku Pasar Tunggu Pengumuman BI Rate
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Petugas jasa penukaran uang asing saat menghitung pecahan 100 dolar AS di PT Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Kamis (1/3/2018). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS melemah dan menyentuh Rp 13.761 per Dolar AS. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Rupiah secara tidak terduga kembali menunjukkan penguatannya di akhir perdagangan pada pekan lalu.

Mata uang Garuda tersebut terdorong 0,05 persen ke level Rp 15.187 per dolar Amerika Serikat (AS).

Bila dilihat dalam sepekan, rupiah ternyata juga mengalami penguatan tipis 0,07 persen.

Tetapi keadaan sebaliknya terjadi dalam data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah malah menurun 0,22 persen menjadi Rp 15.221 per dolar AS atau dalam sepekan terkoreksi sebesar 0,18 persen.

Penguatan itu diduga kuat disebabkan oleh respon pelaku pasar yang masih condong pada berbagai sentimen positif seperti surplus pada neraca perdagangan serta perkiraan defisit fiskal tahun ini yang bisa lebih rendah di kisaran 1,83-2,04 persen.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan rupiah pada Senin (22/10/2018) masih dipengaruhi sentimen eksternal khususnya pasar yang menunggu data Produk Domestik Bruto (PDB) AS.

“Datanya dapat mengkhawatirkan karena bisa memposisikan dolar di atas angin,” ujar Lukman.

Apalagi mengingat pada akhir pekan lalu adanya pengaruh besar respon pelaku pasar terhadap notulen Federal Open Market Committee(FOMC) Minutes di mana Federal Reserve berpotensi melanjutkan kebijakan kenaikan suku bunga acuan hingga tahun depan.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan selain hasil notulen FOMC, masih ada perhatian pasar seputar ketegangan diplomatik antara AS dengan Arab Saudi terkait dengan kenaikkan harga minyak.

“Juga ada kekhawatiran datang dari Italia yang tetap mempertahankan defisit anggarannya di atas aturan Uni Eropa,” kata David.

Ketegangan di benua Eropa ini juga dinilai ikut mendongkrak posisi dollar terhadap mata uang dunia.

Dari dalam negeri, para pelaku pasar juga menunggu pengumuman BI rate yang rencananya akan dikeluarkan pada 23 Oktober 2018 mendatang dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.

Dalam rapat kali ini volatilitas rupiah dan strategi BI akan menjadi perhatian tersendiri.

Untuk Senin (22/10/2018) besok, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah dalam rentang kecil di kisaran Rp 15.175-Rp 15.225 per dolar AS.

Sedangkan David memproyeksikan rupiah berpotensi menguat tipis berada di antara level Rp 15.150-Rp 15.220 per dolar AS. (Kontan/co.id)

Editor: galih pujo asmoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved