Sumber Daya Air di Lahan Kering Perlu Dioptimalkan

Teknologi panen air memastikan air hujan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga air hujan bisa mengairi lahan pertanian lebih luas

Sumber Daya Air di Lahan Kering Perlu Dioptimalkan
dok. Kementan
Sosialisasi dan Bimtek implementasi hemat air Kementerian Pertanian di Grobogan. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, GROBOGAN - Dalam rangka Gerakan Nasional Panen dan Hemat Air (GNPHA) dalam swasembada Pangan Berkelanjutan, hal penting yang harus dicermati secara serius adalah adanya perubahan besar pada data pangan Indonesia.

Sumber daya air yang ada di lahan kering perlu dioptimalkan melalui inovasi teknologi panen air, baik embung dan dam parit serta implementasinya teknologi hemat air yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan).

Sosialisasi dan Bimbingan Teknis difokuskan terhadap implementasi Teknologi Panen dan Hemat Air untuk Pengembangan Sistem Usaha Pertanian (SUP) Inovatif Lahan Kering Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan, Grobogan, Kamis (25/10).

Paket teknologi unggulan pengelolaan sumber daya air meliputi desain panen air dan aplikasi teknologi irigasi hemat air yang sedang dilaksanakan di tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, NTB dan Sulawesi Selatan. 

"Teknologi panen air memastikan air hujan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga air hujan bisa mengairi lahan pertanian lebih luas dan lebih sering, seraya menambahkan agar panen air juga lebih difokuskan pada panen air permukaan," ujar Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementan Dedi Nursyamsi.

Menurutnya, Tiga opsi teknologi yaitu teknologi panen air teknologi hemat air, dan teknologi konservasi air.

Dengan adanya teknologi tersebut masalah utama pengembangan pertanian di wilayah lahan kering adalah keterbatasan ketersediaan air terutama di musim kemarau telah menjawab masalah keterbatasan air ini.

Gerakan panen dan hemat air yang harus dicermati adalah kondisi DAS besar di Indonesia.

Kompetisi dalam penggunaan dan pemanfaatan air,  efisiennya pemanfaatan air dan kesadaran akan pentingnya panen air dan budaya hemat air.

Hemat air dapat diartikan menurunkan jumlah air untuk pertanian tetapi bagaimana caranya agar tidak menurunkan produktivitas lahan dan air.

Oleh karena itu, harus dilihat berapa kebutuhan air untuk dapat memproduksi padi secara optimal serta berapa batas minimum dan batas maksimum dalam penurunan air tersebut yang dapat ditolerasi.

"Saat ini permasalahan pertanian pada lahan kering membutuhkan ketersediaan air yang cukup tentu perlu inovasi yang tepat diantaranya yang sudah dibangun pemerintah dengan membangun embung dan long storage," ujar Peneliti BPTP Sulawesi Selatan Abdul Syukur Syarif.

Dalam sebuah teknologi yang akan terimplementasi di lapang agar bisa diterima oleh petani memang harus perlu memperbanyak demplot atau contoh di lapangan agar memudahkan inovasi teknologi terdesiminasi dengan baik. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved