Tunda Apel Akbar, Banser Diminta 'Colling Dawn' Dilarang Bergerak Tanpa Instruksi Pimpinan

Banser diminta mendinginkan suasana atas situasi saat ini yang berpotensi melahirkan konflik horizontal.

Tunda Apel Akbar, Banser Diminta 'Colling Dawn' Dilarang Bergerak Tanpa Instruksi Pimpinan
Istimewa/Facebook
Personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) saat acara penyerahan 85 pataka Kirab Satu Negeri (KSN) dari lima titik terluar Indonesia (Sabang, Merauke, Rote, Miangas, Nunukan) masing-masing zona 17 pataka, ke Pimpinan Pusat GP Ansor, di Ponpes Al Munawwir Yogyakarta, Jumat (26/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Cilacap memilih pasif menyikapi aksi protes massa alumni 212 di Cilacap terkait kasus pembakaran bendera HTI di Garut.

Pada aksi bela kalimat tauhid di alun-alun Cilacap, Jumat (27/10/2018) kemarin, Banser (Banser adalah barisan ansor serbaguna yang merupakan badan otonom di Gerakan Pemuda Ansor) tak ikut mengerahkan massa untuk menandingi kelompok tersebut.

Pasifnya sikap Banser ini dalam rangka pendinginan (colling dawn) atas situasi saat ini yang berpotensi melahirkan konflik horizontal.

Banser bahkan rela menunda kegiatan akbar Apel Kebangsaan puncak Kirab Satu Negeri (KSN) yang mempersatukan 85 bendera Merah Putih dari lima titik di Indonesia, di Stadion Maguwoharjo Sleman DI Yogyakarta yang sedianya digelar, Jumat (26/10/2018) malam.

Sebab di hari yang sama, massa dari berbagai daerah menggelar aksi yang memprotes pembakaran bendera identik HTI. Sehingga rawan terjadi gesekan.

"Ditunda sampai kapan belum tahu, belum ada jadwal," kata Komandan atau Ketua Satkorcab Banser Kabupaten Cilacap, Jamaluddin Albab, Sabtu (27/10/2018).

Sikap Banser di daerah ini tak lepas dari instruksi Pimpinan Pusat GP Ansor yang meminta seluruh kadernya di daerah untuk mendinginkan situasi.

Paska peristiwa pembakaran bendera HTI di Garut beberapa waktu lalu, kata Jamaludin, seluruh anggota Banser di daerah dilarang membuat gerakan sendiri tanpa sepengetahuan pimpinan, baik di tingkat desa/kelurahan, kecamatan, wilayah, hingga pusat. Seluruh gerakan harus terorganisasi atau terkoordinasi dengan baik.

Banser juga diinstruksikan untuk tidak menanggapi isu menyesatkan yang berkembang di media sosial.

Banser telah menyerahkan permasalahan ini ke Kepolisian. Pihaknya pun berharap penegak hukum mengusut penyebab pembakaran benderaHTI di Garut. Pasalnya, tindakan anggota Banser dalam insiden itu merupakan reaksi dari aksi provokatif.

Banser kerap terlibat aktif dalam penurunan atribut semisal banner, poster dan spanduk yang mengusung ide khilafah di seantero Cilacap, 2017 lalu.

Atribut khilafah itu terpasang di persimpangan, pinggir jalan dan tembok pagar luar sekolah.

Meskipun saat itu, Dewan Pengurus Daerah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kabupaten Cilacap, membantah telah memasang atribut provokatif tentang pendirian negara khilafah dan penerapan syariat Islam.(*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved