Ketua Resosialisasi Sunan Kuning Semarang Ungkap Perbedaan Kondisi SK Dulu dan Sekarang

Ia kemudian mempersilakan masuk untuk kemudian memulai perbincangan terkait rencana penutupan resosialisasi (lokalisasi) Sunan Kuning (SK)

Ketua Resosialisasi Sunan Kuning Semarang Ungkap Perbedaan Kondisi SK Dulu dan Sekarang
Tribun Jateng/rahdyan trijoko pamungkas
Gang Argorejo (Sunan Kuning) tampak lengang Setelah PSK dari Provinsi DKI Jakarta,Banten,dan Jabar Dipulangkan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suwandi Eko Putranto terlihat sedang menata dua mobil saat Tribun Jateng menyambangi rumahnya di komplek resosialisasi Argorejo, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Sabtu (27/10) malam.

Ia kemudian mempersilakan masuk untuk kemudian memulai perbincangan terkait rencana penutupan resosialisasi (lokalisasi) Sunan Kuning (SK).

Ketua resosialisasi SK, Suwandi membeberkan bahwa rencana penutupan resosialisasi SK telah membuat warga resah. Bukan hanya bagi anak asuh (sebutan untuk pekerja seks komersial dan pemandu karaoke), namun juga pedagang, serta semua pihak yang menggantungkan hidup di dalamnya.

Perputaran uang tidak lagi seperti dulu sebelum ada rencana penutupan yang bisa mencapai Rp 500 juta perhari. Sebagian anak asuh memilih pergi meninggalkan SK dan pindah ke lokasi lain karena merasa situasi tidak lagi kondusif dan menjadi sorotan. Begitu pun pengunjung, mereka jadi takut untuk datang.

Suwandi menilai perlu adanya kajian serta program yang matang agar penutupan bisa dilakukan secara bijaksana. Jangan sampai merugikan salah satu pihak atau justru memunculkan masalah baru, seperti semakin menjamurnya prostitusi jalanan yang justru sulit dimonitor.

“Bagaimana nanti kalau ditutup. Padahal kondisi sekarang ini masyarakatnya sudah rukun, lingkungan dan taraf ekonominya juga sudah baik. Jangan langsung ditutuplah, minta waktu panjang untuk menyusun program. Kami minta solusi dikemanakan manusianya yang berjumlah sampai 3.000an ini,” kata Suwandi.

Ia menambahkan, kalau bisa komplek resosialisasi Argorejo jangan sampai ditutup. Dikhawatirkan terjadi seperti di lokalisasi Dolly, meski telah ditutup namun nyatanya hingga sekarang masih beroperasional secara diam-diam bahkan wanita PSK berkeliaran di jalanan yang justru bikin semrawut dan sulit diawasi.

Alasan lain yang membuatnya ingin tetap resosialisasi Argorejo beroperasi karena programnya jelas, yaitu dari segi kesehatan, pengamanan, dan pengentasan.

Ketiga program tersebut idealnya dipakai selama tiga tahun untuk kemudian anak asuh bisa hidup normal dan kembali lagi ke masyarakat.

Dari segi menjaga kesehatan, resosialisasi Argorejo menjadi tempat prostitusi percontohan terbaik se Indonesia 2017. Tiap anak asuh wajib menabung Rp 50 ribu per minggu.

Halaman
12
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved