FOCUS

Tersesat di Ruang Publik

Sumpah Pemuda merupakan peristiswa saat para pemuda Indonesia menyadari perlunya bersatu untuk membentuk kemerdekaan bangsa

Tersesat di Ruang Publik
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Cecep Burdansyah wartawan /Tribun Jateng 

SUDAH menjadi kebiasaan kita, untuk hari-hari nasional tak pernah lupa untuk dirayakan, termasuk hari Sumpah Pemuda, baik di tingkat nasional maupun di daerah. Tak ada yang salah. Memang sebaikya begitu, agar kita jadi bangsa yang tidak melupakan sejarah.

Namun yang perlu direnungkan bukan saja seremoninya, tapi esensi dari momentum bersejarah tersebut. Sumpah Pemuda merupakan peristiswa saat para pemuda Indonesia menyadari perlunya bersatu untuk membentuk kemerdekaan bangsa. Makna setiap tanggal 28 Oktober tentu bukan sekadar upacara, tapi merenungkan apa kira-kira persoalan yang sudah mulai pudar dari pejuangan Sumpah Pemuda.

Ambil contoh misalnya kebanggaan menggunakan Bahasa Indonesia di ruang publik, terutama di tempat-tempat pemukiman, tempat-tempat wisata, di kedai-kedai makan, di pusat belanja. Bahkan judul film Indonesia pun ikut latah. Semuanya sudah keranjingan menggunakan bahasa Inggris. Bahkan tak segan nama kota di negara lain pun dicatut untuk dijadikan nama tempat pemukiman.

Kebiasaan tersebut bisa saja sebagai gejala mengidap pamer gaya hidup kosmopolitan. Kalau tidak menggunakan bahasa Inggris takut disebut katinggalan, atau kuno, tidak mengikuti zaman. Gejala psikologis itu kemudian ditangkap oleh pelaku bisnis, dengan menyematkan nama-nama tempatnya dengan bahasa Inggris. Belum lagi nama produknya, seperti makanan, sekarang sudah sulit menemukan nama makanan berbahasa Indonesia. Bagi yang tidak terbiasa makan di restoran, akan kesulitan mencari menu makanan khas Indonesia.

Setelah Jakarta, Kota Bandung tampaknya paling banyak nama kawasan, tempat belanja dan tempat wisata yang menggunakan bahasa Inggris. Coba berwisata ke Bandung, maka Anda akan menemukan tempat-tempat seperti Farm House, Floating Market, Upside Down Wilds, Rainbow Garden, Barussen Hills, The Lodge Maribaya, Kampung Gajah Wonder Land, Dago Dream Park, Ciwidey Valley Hot Spring Water Ressot. Sungguh membingungkan.

Bukan saja para pelaku bisnis yang menyematkan bahasa Inggris untuk kawasan pemukiman dan tempat wisata, tapi pemerintah daerah juga melakukan hal yang sama. Nama gedung milik Pemerintah Kota Banding mislanya Bandung Creative Hub, lalu ada Car Free Day, Car Free Night, dan masih ada juga gelaran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Bandung baru-baru ini dalam rangka ulang tahunnya, yaitu Bandung Light Festival. Belum lagi kalau kita masuk ke kawasan pemukiman, langsung terperangkap dengan bahasa Inggris.

Sangat menyedihkan. Padahal dalam UU No 24 Tahun 2009 Pasal 26 disebutkan: “Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau pemukiman, perkantoran, komplek perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga Indonesia atau badan hukum Indonesia. Penamaan dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat dan atau keagamaan.”

Tidak usah berkelit. Banyak penamaan bahasa Inggris yang tak ada sangkut pautnya dengan nilai-nilai sejarah, budaya, adat istiadat dan keagamaan. Asal comot dengan pertimbangan, asal gaya. Tak peduli kita akhirnya terserat dikerubuti bahasa asing. Ruang publik tidak lagi dimiliki oleh bahasa Indonesia, bahasa persatuan kita, tapi sudah dijajah oleh bahasa asing. Apakah mau dibiarkan? (*)

Penulis: cecep burdansyah
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved