Breaking News:

Tamzil Sayangkan Kopi Muria Dijual Karungan Kemudian Diklaim Kopi Khas Daerah Lain

Tamzil sebut Kopi Muria dijual karungan ke luar daerah hingga akhirnya diklaim sebagai kopi khas daerah tersebut.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Bupati Kudus Muhammad Tamzil saat mengunjungi stan Kopi Muria pada pameran yang digelar di Balai Jagong.  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS –  Selain sebutan sebagai Kota Kretek, Kudus juga memiliki potensi lain. Misalnya di lereng Gunung Muria terdapat perkebunan kopi. Namun, sejauh ini dinilai masih belum maksimal dalam pengembangan.

Dalam pameran Kudus Ekspo yang digelar di Balai Jagong sejak Jumat (2/11/2018), Kopi Muria pun ikut dipamerkan. Wilayah Kudus yang tergolong sebagai penghasil kopi terdapat di lereng Gunung Muria.

Dari data Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertanpangan) Kabupaten Kudus, terdapat 621 hektare lahan yang ditanam kopi. Yaitu berada di Desa Colo, Japang, Ternadi, Kajar, Desa Rahtawu, dan Desa Menawan. Ada sebanyak 150 petani yang mengelola lahan tersebut.

Sebagian besar kopi yang ditanam yaitu jenis robusta. Kopi jenis arabika baru ditanam di Desa Rahtawu tepatnya di Dukuh Semliro seluas 11 hektare.

Kepala Dispertanpangan Kudus Catur Sulistiyanto mengatakan, hasil panen kopi dari lereng Gunung Muria terhitung melimpah dengan jumlah lahan tanam yang ada. Pada tahun lalu,mampu menghasilkan sampia 350 ton. Untuk kopi robusta per haktare luas lahan mampu menghasilkan 700 sampai 8000 klogram. Sedangkan untuk kopi arabika mampu menghasilkan 600 sampai 700 kilogram per hektare.

“Selama  ini sebagian besar petani langsung menjual kopinya kepada pedagang untuk dikirim langsung ke luar daerah,” kata Catur, Minggu (4/11/2018).

Melihat hasil kopi dari lereng Gunung Muria, Bupati Kudus Muhammad Tamzil menyempatkan diri untuk sejenak melihat pameran hasil pertanian berupa kopi.

Setelah itu dia meminta agar pengembangan potensi pertanian utamanya kopi harus semakin digenjot.

Menurutnya, sejauh ini banyak relasinya selalu mendengar kopi Muria. Namun sayangnya dijual karungan ke luar daerah hingga akhirnya diklaim sebagai kopi khas daerah tersebut.

“Padahal kopi Muria memiliki khas dan bisa dikembangkan jadi ikon Kudus,” kata Tamzil.

Kontan Tamzil meminta kepada Dispertanpangan agar ikut membina perkembangan kopi untuk dijadikan olahan siap jual. Tidak lagi biji kopi lagi yang dijual ke luar daerah.

“Jadi, kami harapkan untuk bersama-sama memajukan kopi dan produk pertanian lainnya. Kalau saya lihat, kita ini tidak kalah dengan kabupaten lain. Nanti kalau ada tamu ke pendopo akan kami promosikan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Catur akan segera menjalin koordinasi dengan Penyuluh Pertnaian Lapangan (PPL) di Kecamatan Dawe, gebig, dan Bae untuk mengurangi penjualan jenis kopi mentah atau petik.

“Selama ini sebenarnya PPL kecamatan Dawe sudah melakukan pembinaan ke petani untuk melakukan olahan kopi dan dikemas menarik. Buktinya, beberapa waktu ada poktan yang meraih prestasi lomba olahan kopi tingkat Provinsi Jawa Tengah,” kata Catur.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved