Ada Piring Antiracun Bertuliskan Rajah Milik Sinuhun di Museum Keraton Solo
Lokasi museum Keraton Kasunanan Surakarta, Solo tak jauh dari pintu masuk Keraton Solo. Ada Piring Antiracun Milik Sinuhun di Museum Keraton Solo.
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Lokasi museum Keraton Kasunanan Surakarta, Solo, Jawa Tengah tak jauh dari pintu masuk Keraton Solo.
Harga tiket masuk Museum Keraton Solo hanya Rp 10.000.
Beragam benda kuno milik Pakubowono IV dan Pakubowono XI, Sinuhun Keraton Solo bisa dilihat di Museum Keraton Solo.
Terpajang dalam lemari kaca berdebu, ada salah satu piranti makan sang raja yang menarik perhatian.
Adalah piring anti racun. Seperti namanya, piring ini berfungsi untuk menetralisir racun.
Piring tersebut berada di Museum Keraton Surakarta yang letaknya tak jauh dari keraton.
Sutardi, abdi dalem keraton menyapa ramah kepada pengunjung museum. Satu persatu ia menjelaskan peninggalan barang-barang keraton dari Pakubowono IV dan Pakubowono XI.
Piring antiracun dibuat dari bahan porcelain. Piring ini berhiaskan kalimat rajah dan berasal dari zaman pemerintahan Pakubuwono ke IV.
“Bahannya hanya dari porcelain tidak ada tambahan bahan lain. Tetapi ada kalimat rajah yang dipercaya dapat menangkal racun,” ujarnya, Kamis (25/10).
Piring ini biasanya dipakai sang raja untuk menjamu para tamu. Dengan piring ini, raja juga bisa mengetahui niat dari tamu yang datang.
“Apakah tamu yang datang tersebut berniat jahat atau tidak, raja sudah merasakan,” kata Sutardi.
Selain piring anti racun, ada pula peralatan masak peninggalan Pakubuwono IV. Di antaranya adalah dandang, kipas, kusan dan iyan yang semuanya berukuran besar.
Dandang berfungsi sebagai tempat menanak beras. Kipas digunakan untuk memperbesar api.
Pasalnya pada zaman tersebut masih menggunakan tungku.
Sementara kusan berfungsi sebagai tutup dandang. Terakhir adalah iyan yang digunakan untuk tempat nasi sebelum dipindah ke bakul.
Di Museum Keraton Surakarta, pengunjung juga dapat menjumpai tempat minum yang digunakan raja-raja terdahulu.
Pada era Pakubuwono IV, tempat minum yang digunakan berupa kendi berbahan dasar porcelain.
Seiring berkembangnya zaman, kendi atau tempat minum ini juga mengalami perubahan. Dari yang semula berbahan porcelain berganti menjadi kendi berbahan tembaga di era Pakubuwono XI.(lil/mif/gpe/bas/oni)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/piring-antiracun-milik-museum-keraton-solo_20181105_124402.jpg)