Alasan Cemburu, Seorang Ayah Tega Cabuli Anak Kandungnya

Diduga karena rasa cemburu, seorang ayah tega mencabuli anak kandungnya yang masih duduk di bangku SMP.

Alasan Cemburu, Seorang Ayah Tega Cabuli Anak Kandungnya
tribunjateng/bram
Ilustrasi pemerkosaan pencabulan 

TRIBUNJATENG.COM - Diduga karena rasa cemburu, seorang ayah tega memerkosa anak kandungnya yang masih duduk di bangku SMP.

Kasatreskrim Polres Muaro Jambi AKP Afrito Baro Baro melalui konferensi pers, Selasa (6/11/2018), menjelaskan, tersangka merupakan pria berinisial T (39), warga Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.

Sejak berusia 13 tahun saat duduk di kelas 1 SMP pada 2012, putri T telah menjadi korban kekerasan seksual ayahnya.

Peristiwa nahas itu dialami korban selama lima tahun, yakni hingga 2017.

"Perlakuan tersangka kepada korban terjadi sejak korban kelas satu SMP yaitu pada Juni 2012 hingga terakhir kali tahun 2017 di rumah yang di tempati pelaku dan korban," jelas Afrito, dikutip Tribunjateng.com dari TribunJambi.com.

Tersangka pertama kali melakukan perbuatannya dengan iming-iming HP serta ancaman pembunuhan.

"Menurut korban awal mula kejadian korban diancam akan dibunuh jika tidak menuruti keinginan pelaku dengan sebilah pisau. Pengakuan korban juga pernah dicekik dan diiming-iming untuk dibelikan HP," kata Afrito.

Dari pengakuannya, T nekat berbuat menyimpang atas dasar rasa cemburu.

Ia cemburu putrinya punya pacar dan kerap pergi bersama.

"Alasannya karena anaknya yang juga korban sering pergi dengan pacarnya, kadang pacarnya juga datang ke rumah korban. Jadi ada rasa cemburu dari tersangka, karena cemburu tadi akhirnya tersangka melakukan perbuatan itu," ungkap Afrito.

"Barang bukti yang kita amankan, pakaian korban, satu buah bantal, satu helai sarung, satu helai seprei yang digunakan tersangka dalam tindak pidana tersebut," imbuhnya.

Pasal yang disangkakan pada T atas perbuatannya yakni pasal 76D Jo Pasal 81 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 64 KUHP.

"Ancaman hukumannya minimal lima tahun penjara serta maksimal 15 tahun dan karena pelaku adalah orangtuanya maka ancaman pidananya ditambah sepertiga sehingga menjadi 20 tahun," terang Afrito.(*)

Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved