Veteran Berusia 94 Tahun Ceritakan saat Tiga Pemuda Turunkan Bendera Penjajah di Pekalongan

Tak berselang lama, mereka nekat menurunkan bendera Jepang dan menggantikannya dengan bendera merah putih.

Veteran Berusia 94 Tahun Ceritakan saat Tiga Pemuda Turunkan Bendera Penjajah di Pekalongan
Tribun Jateng/ Budi Susanto
Tambunan (tengah) bersama Wali Kota Pekalongan Saelany Mahfudz dan Kasdim 0710 Pekalongan Mayor Hufron dalam acara Teras Walikota di Rumah Dinas Walikota Pekalongan, Selasa (6/11/2018).  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Beberapa pelajaran, organisasi pemuda, para veteran, anggota TNI dan jajaran Pemkot Pekalongan gelar dialog bersama di Rumah Dinas Walikota Pekalongan.

Acara yang diberi nama Teras Walikota tersebut sengaja diadakan untuk menyambut Hari Pahlawan 10 November mendatang.

Dalam acara Teras wali kota, materi sejarah kepahlawanan yang pernah terjadi di Kota Pekalongan dan peranan generasi muda untuk mengenang jasa para pahlawan dalam mengisi kemerdekaan digaungkan.

Satu di antara veteran yang hadir, yaitu Tambunan (94). Secara menggebu-gebu pria usia lanjut tersebut menceritakan masa-masa perjuangan yang pernah ia alami, bahkan ia mengungkapkan saat ia berjuang bersama rekan-rekannya teknologi dan sarana komunikasi masih sangat sulit.

Sehingga masyarakat Pekalongan hanya bisa mengakses berita kemerdekaan hanya melalui radio dan melalui tutur.

Ia masih teringat peristiwa sejarah 3 Oktober 1945 yang terjadi di Kota Pekalongan, hal itu menjadi  bukti perjuangan masyarakat Pekalongan dalam melawan penjajahan.

Pada saat itu yang diwakili oleh Mr Besar mengajukan tiga tuntutan kepada Jepang, satu di antaranya pelucutan senjata, namun pihak Jepang menolak permintaan tersebut. Kemudian permasalahan timbul karena  ada usaha rakyat untuk mengambil alihan kekuasaan pemerintahan dari tangan Jepang.

"Namun, perundingan yang diadakan di Markas Kempetai yang sekarang menjadi Masjid Syuhada Pekalongan mengalami kegagalan karena berubah menjadi pertempuran antara masyarakat Pekalongan dengan pihak Jepang," katanya, Selasa (6/11/2018).

Mata pria renta tersebut semakin berkaca-kaca saat menceritakan tentang tiga pemuda Pekalongan yang memberanikan diri berteriak saat perundingan berlangsung untuk mendesak pemerintahan Jepang.

Halaman
12
Penulis: budi susanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved