Pernikahan Beda Negara, Perjuangan Bule Cantik Ceko Hingga Dinikahi Peternak Ikan Asal Banjarnegara

Pernikahan pasangan beda negara Asep Probo Egiana dan Pavla Travnickova di Banjarnegara beberapa waktu lalu sempat menyita perhatian publik.

Pernikahan Beda Negara, Perjuangan Bule Cantik Ceko Hingga Dinikahi Peternak Ikan Asal Banjarnegara
Facebook
pernikahan beda negara Asep dan Pavla di desa Gumiwang Purwanegara Banjarnegara 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Pernikahan pasangan beda negara Asep Probo Egiana dan Pavla Travnickova di Banjarnegara beberapa waktu lalu sempat menyita perhatian publik.

Penyatuan dua insan itu membuktikan kekuatan cinta yang tak mengenal perbedaan suku, ras, maupun negara.

Asep Probo adalah pria sederhana yang sehari-hari berprofesi sebagai peternak ikan di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara Banjarnegara.

Ia berhasil mempersunting gadis cantik yang juga aktivis lingkungan asal Republik Ceko, Pavla Travnickova.

Usai mengikat janji suci, keduanya memutuskan menetap di Desa Gumiwang Banjarnegara.

Desa cantik yang dipenuhi hamparan sawah dan kolam-kolam ikan ini jadi tempat bagi keduanya untuk merangkai masa depan bersama.

"Iya sekarang tinggal di sini," kata Sukini, warga Desa Gumiwang, kerabat mempelai

Jika lain daerah saja sudah banyak yang berbeda kebudayaannya, apalagi lain negara.

Tinggal di tengah masyarakat yang masih memegang adat istiadat Jawa menuntut Pavla bisa beradaptasi.

Pavla pun bisa melakukan pekerjaan itu dengan baik.

Maklum, sebelum menikah dengan Asep, Pavla pernah dua bulan tinggal di kediaman Sukini, Desa Gumiwang sembari mengerjakan proyek organisasinya.

Dua bulan berinteraksi, Pavla belajar banyak hal tentang kebudayaan masyarakat desa, terutama dari keluarga Sukini.

Keluarga itu menganggap Pavla lebih dari sekadar tamu, melainkan bagian dari keluarga. Batin keduanya pun terikat.

Hingga dua bulan berakhir, Pavla berat hati untuk pamitan. Air matanya berlinang. Ia ingin tetap tinggal.

"Dia gak ingin pulang. Berat meninggalkan sini. Dia izin besok akan kesini lagi," katanya

Kini, Pavla benar-benar bisa mewujudkan keinginannya.

Asep adalah alasan bagi dia untuk menetap di desa Gumiwang tanpa batas waktu.

Keinginannya untuk menjadi bagian dari keluarga Sukini pun terwujud lantaran Asep tak lain adalah keponakan Sukini.

Keseriusanya untuk menjadi warga desa telah teruji. Ia tak canggung mendampingi suaminya membudidayakan ikan di kolam.

Perlahan, ia mampu menjalankan norma atau kebiasaan masyarakat Jawa.

Semisal kebiasaan saling memberi untuk menguatkan tali silaturahim. Sukini tak bosan mengajari Pavla tentang keluhuran budaya Jawa.

"Sekarang dia kalau bertamu sering bawa buah tangan untuk tuan rumah. Sebaliknya kalau didatangi tamu, kita bawakan tamu itu buah tangan. Kebiasaan orang Jawa kan seperti itu. Dia kalau sama saya juga sudah bicara Ngapak,"katanya

Persaudaraan dalam tradisi masyarakat Jawa begitu kuat, meski tidak terikat hubungan darah.

Perwujudannya dalam tindak tanduk keseharian beragam.

Sukini mencontohkan kebiasaan positif itu antara lain salaman. Pavla pun telah terbiasa melakukan itu setiap kali bertemu orang.

Jika hubungan dengan orang lain begitu erat, terlebih dengan keluarga atau orang tua.

Sukini mengajarkan bahwa ikatan batin antara orang tua dan anak di desa begitu kuat.

Meski terpisah jarak yang jauh, komunikasi tetap terjalin melalui sambungan elektronik atau telepon.

Mereka rajin bertukar kabar untuk memastikan keadaan masing-masing baik-baik saja.

Dengan demikian, orang tua dapat terus memantau keadaan atau perkembangan anak-anaknya, begitupun sebaliknya.

"Kalau di sini, orang tua selalu ingin tahu kabar anaknya, makanya sering telpon,"katanya

Pola hubungan dan kebiasaan seperti ini belum tentu dimiliki masyarakat luar negeri sana. Modernitas membuat hubungan kekeluargaan kian renggang.

Pavla sepertinya belajar dari situ. Sukini mengungkapkan, setelah cukup lama berinteraksi dengan masyarakat desa dan mengenali kebudayaannya, Pavla mulai merubah kebiasaannya.

Ia yang jarang sekali menghubungi orang tuanya di negara asalnya, menjadi rutin menyambung komunikasi dengan keluarganya.

Orang tua mana yang tak terharu sekaligus bangga melihat anaknya kembali mengikat batin.

Dari situ, mereka mengatahui betapa luhurnya kebudayaan masyarakat Jawa. Wajar saja, Pavla berat hati meninggalkan desa dengan segala kebudayaannya.

"Saya ceritakan kalau di sini hubungan orang tua anak seperti ini. Dia jadi sering telepon orang tuanya. Padahal sebelumnya gak. Orang tuanya sampai menyusul kesini," katanya.(*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved