Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Nurul Hasfi Dosen FISIP Universitas Diponegoro: Poster Jokowi Adopsi Kampanye Dunia Maya

Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari ditemukannya poster Jokowi mengenakan pakaian raja di 27 kabupaten

Kompas.com/Fabian Januarius Kuwado
Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Minggu (4/11/2018). 

TRIBUNJATENG.COM -- Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari ditemukannya poster Jokowi mengenakan pakaian raja di 27 kabupaten yang ada di provinsi Jawa Tengah. Strategi pesan politik yang dibuat.

Menurut saya cara ini merupakan salah satu bentuk kampanye di ranah nyata yang mengadopsi teknik-teknik kampanye politik di dunia maya.

Hal ini didasarkan pada pertimbangan karena penetrasi internet di Jawa Tengah, sebagai basis PDIP, belum tinggi sehingga kampanye di dunia nyata masih menjadi alternatif.

Pertama, saya setuju dengan identifikasi sebagai kampanye hitam, namun saya juga melihatnya sebagai informasi hoax yang menggabungkan antara fakta dan manipulasi yang dibungkus dengan teknik kampanye melalui poster.

Hoax selama ini efektif terjadi di dunia maya karena adanya teknologi digital yang dapat dengan mudah memanipulasi teks (gambar, grafis, artikel, dan lain-lain) dengan cara menggabungkan fakta dan data palsu yang akhirnya menghasilkan pesan manipulatif.

Gambar Jokowi berpakaian raja bisa jadi fakta karena Jokowi dalam berbagai kesempatan gemar mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghargaannya kepada budaya tradisional.

Namun, fakta ini menjadi hoax manakala gambar ini digunakan dalam konteks berbeda yakni kampanye politik di negara demokratis yang bertolak belakang dengan karakter kepemimpinan raja yang anti-demokrasi seperti otoriter, tidak merakyat, dan sebagainya.

Hal tersebut kemudian dikombinasikan dengan fakta seperti simbol PDIP dan slogan Jokowi ‘Ayo Bekerja untuk Rakyat’ yang memperkuat representasi 'Jokowi otoriter’.

Kedua, dari cara distribusi dan produksi kampanye ini juga mencoba mengadopsi dunia maya yang memiliki karakter cepat dan luas. Siapapun orang yang memproduksi dan menyebarkan poster ini memiliki sudut pandang bahwa penyebaran yang cepat dalam waktu sehari dan dilakukan luas di 27 kabupaten di provinsi Jawa Tengah.

Sejauh ini, jarang ada penyebaran poster bermuatan kampanye negatif ataupun hoax di ranah nyata yang dilakukan dalam skala luas. Biasanya berlangsung sempit karena meminimalisir penolakan warga dan ancaman hukuman.

Misalnya penyebaran selebaran kampanye hitam yang menyerang Gubernur Ganjar Pranowo tentang korupsi e-KTP beberapa waktu lalu saat kampanye pilgub 2018 yang hanya berlangsung di Pati. Pada saat itu pelaku penyebaran di lapangan teridentifikasi warga dan langsung diinterogasi warga.

Mengapa poster capres Jokowi Raja ini dapat didistribusikan dengan luas dan cepat? Menurut saya hal ini karena teknik hoax yang tidak provokatif dan tidak mudah dibaca oleh masyarakat awam, apalagi di daerah.

Selain itu juga didukung oleh pendanaan yang tidak sedikit, misalnya penempelan di stiker yang di angkot yang dibayar 100 ribu dan jaringan distribusi yang berlangsung serentak. Dari sini juga terlihat bahwa produksi dan penyebaran poster ini dilakukan secara terencana baik jaringan distribusi maupun pendanaan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved