Pendidikan Pesantren Perlu Didasarkan pada Konsep Pendidikan Ramah Anak

Tanggung jawab pengasuh maupun kyai pondok menjadi lebih berat karena tidak hanya ketika anak belajar.

Pendidikan Pesantren Perlu Didasarkan pada Konsep Pendidikan Ramah Anak
Istimewa
Pemateri Anas Rohman memimpin focus group discussion tentang pendidikan ramah anak di pondok pesantren Ibrohimiyyah, Mranggen, Demak. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Hak-hak dasar sebagai anak harus terpenuhi sekalipun anak tersebut menjadi santri suatu pondok pesantren.

Terlebih anak juga jauh dari orang tuanya. Sehingga pendidikan yang diberikan perlu didasarkan pada konsep pendidikan ramah anak.

Hal itu disampaikan dosen Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Anas Rohman, dalam Focus Group Discussion bertema pendidikan ramah anak dari tinjauan psikologis maupun dari manajemen pengelolaan pendidikan ramah anak di pesantren yang digelar di pondok pesantren Ibrohimiyyah, Mranggen, Demak.

"Pondok pesantren yang notabene melaksanakan kegiatan pendidikan yang terintegrasi secara penuh selama 24 jam tentu harus lebih memperhatikan hak-hak dasar anak yang harus tetap terpenuhi meskipun para santri berada jauh dari orang tuanya," katanya, dalam rilis kepada Tribunjateng.com, Selasa (13/11/2018).

Baca: 1.344 Alat Peraga Kampanye di Kota Semarang Langgar Aturan

Dengan demikian, tanggung jawab pengasuh maupun kyai pondok menjadi lebih berat karena tidak hanya selama anak-anak belajar, tetapi semua kegiatan yang dilakukan para santri menjadi tanggung jawab penggelola pondok seutuhnya.

Dikatakannya, berdasarkan hasil Focus Group Discussion yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa secara psikologis pendidikan ramah anak di pesantren harus dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kondisi masing-masing anak dan memperhatikan semua kebutuhan anak baik secara jasmani maupun rohani dengan baik.

"Pendidikan ramah anak di pondok pesantren dapat dilakukan dengan menyediakan beberapa fasilitas penunjang kegiatan anak seperti arena bermain, tempat belajar, tempat tidur maupun tempat belajar yang nyaman bagi anak," paparnya.

Anas menegaskan, penyelenggaraan pendidikan ramah anak harus dilaksanakan dengan memperhatikan berbagai kondisi anak karena pada dasarnya anak memiliki karakter yang berbeda sehingga dalam proses pendidikannya tidak dapat disamakan.

Hal yang terpenting, lanjutnya, tentunya harus ada jalinan komunikasi yang baik antara orang tua dengan pengelola maupun pengasuh pondok pesantren.

"Sementara dari kajian manajemen pondok pesantren, harus dapat diselenggarakan dengan menyesuaikan keadaan pondok pesantren maupun keadaan dari para santri itu sendiri," tambahnya.

Baca: Wali Kota Semarang Resmikan Shelter PKL di Kawasan Taman Indonesia Kaya

Menurutnya, manajemen pondok pesantren harus dapat mengelompokkan santri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak, sehingga kegiatan pendidikan yang ramah anak senantiasa dapat terpenuhi dengan baik.

Focus Group Discussion tersebut digelar sebagai rangkaian kegiatan hibah Program Penelitian Diktis Kementrian Agama yang diperoleh dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unwahas Semarang, Fitria Martanti.

Kegiatan Focus Group Discussion dihadiri oleh 35 peserta, baik dari pengelola, pengasuh maupun santri pondok pesantren.

"Kegiatan tersebut ditujukan agar penggelolaan pondok pesantren dapat lebih memperhatikan hak-hak dasar anak dan mendasarkan pada konsep pendidikan ramah anak," kata Fitria. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved