Alur Pelaporan KDRT Membingungkan

Alur pelaporan masyarakat terkait dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih berbelit

Alur Pelaporan KDRT Membingungkan
tribunjateng/grafis/bram kusuma
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Arief Novianto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Alur pelaporan masyarakat terkait dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih berbelit. Hal itu seperti dialami seorang ibu muda berinisial KAP (16), warga Tembalang, Semarang, Senin (19/11).

Rina, bukan nama sebenarnya, menuturkan, telah melakukan pelaporan KDRT yang menimpanya ke SPKT Polrestabes Semarang pada Sabtu (17/11) malam.

Saat itu, ia sebenarnya hendak melaporkan kasus itu ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), tetapi tidak ada petugas yang piket malam.

"Oleh petugas SPKT Polrestabes saya diarahkan untuk melakukan visum KDRT yang menimpa saya ke RSUD Tugu. Katanya sudah ada kerja sama Polrestabes dan RSUD Tugu terkait dengan penanganan kasus itu," ujarnya kepada Tribun Jateng.

Ibu satu anak itu diarahkan melakukan pemeriksaan psikologis sebagai dampak KDRT yang menimpanya, mengingat kekerasan fisik yang sudah terjadi beberapa kali sebelumnya sudah tak lagi tampak.

Senin (19/11) pagi, Rina langsung menuju RSUD Tugu untuk melakukan visum. Tetapi, ia ditolak oleh dokter poli psikologi, Anna Heliantin, dengan alasan tidak ada surat pengantar dari Polrestabes.

Rini mendatangi RSUD Tugu dengan ditemani ayah dan ibunya, serta tetangganya, Kasih W.

"Saya bingung kalau gini, padahal sudah jelas dari Polrestabes dsuruh visum ke RSUD, sekarang diarahkan ke DP3AKB (Dinas Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana) Jateng," tutur Kasih.

Menurut dia, alur pelaporan itu sangat tidak jelas dan membingungkan. Hal itu mengingat SPKT Polrestabes yang tidak memberikan surat pengantar apapun untuk pemeriksaan di RSUD.

Halaman
12
Penulis: arief novianto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved