Alur Pelaporan KDRT Membingungkan

Alur pelaporan masyarakat terkait dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih berbelit

Alur Pelaporan KDRT Membingungkan
tribunjateng/grafis/bram kusuma
Ilustrasi 

Bahkan, Kasih menyatakan, dokter Anna Heliantin juga menyebut tidak ada kerja sama antara RSUD Tugu dengan Polrestabes terkait dengan penganan kasus KDRT.

"Dokter Anna bilang Kepolisian sering seperti itu, tidak memberikan pengantar atau koordinasi untuk penanganan KDRT. Bahkan katanya pernah ada orang Kendal datang dengan membawa tujuh anak korban kekerasan yang harus balik lagi ke Kendal untuk minta pengantar pemeriksaan dari polisi. Ini kan ribet banget," paparnya.

Kasih yang juga mendampingi Rina saat melapor ke Polrestabes menyatakan, seharusnya ada koordinasi yang jelas terkait dengan alur birokrasi penanganan KDRT, sehingga masyarakat tidak jengah, dan tidak enggan melapor kasus seperti ini.

"Kalau orang disuruh bolak balik seperti itu bisa-bisa dia menyerah dan malas mengurus kasusnya yang ujung-ujungnya harus kembali menjadi korban," tandasnya.

Kasih juga menyayangkan sikap dokter Anna Heliantin yang tidak memahami psikologis korban KDRT, dengan tekanan batin yang dihadapi terkait penolakan pemeriksaan pihak RSUD.

Padahal, Rina dan keluarga telah mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan arahan petugas SPKT Polrestabes. Ia bahkan berangkat sejak pagi dari rumahnya di Tembalang menuju RSUD Tugu dan telah menunggu cukup lama untuk bisa menjalani pemeriksaan.

Setelah ditolak di RSUD, Rina kemudian mendatangi DP3AKB Jateng di Jalan Pamularsih Semarang. Pelaporan Rina kini tengah dalam proses untuk dikoordinasikan ke pihak-pihak terkait. (*)

Penulis: arief novianto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved