OPINI

OPINI Hidar Amaruddin : Meneguhkan Adab Menuntut Ilmu

BANYAK terjadinya kasus yang terjadi di dunia pendidikan menjadikan kita untuk introspeksi.

OPINI Hidar Amaruddin : Meneguhkan Adab Menuntut Ilmu
Bram
Hidar Amaruddin SPd 

Oleh Hidar Amaruddin SPd

Mahasiswa Pascasarjana Unnes

TRIBUNJATENG.COM -- BANYAK terjadinya kasus yang terjadi di dunia pendidikan menjadikan kita untuk introspeksi. Seperti contoh viralnya video Pak Joko Susilo, guru di sebuah sekolah swasta di Kendal, terlihat bagaimana proses pembelajaran terjadi tidak sebagaimana semestinya. Pihak sekolah telah memberi klarifikasi, bahwa kejadian tersebut sebagai candaan,. Namun, apakah harus begitu cara bercanda antara guru dan murid?

Belum lagi kasus yang menimpa guru di beberapa dekade ini, ada yang hampir di penjara karena mencubit muridnya dengan alasan sang murid yang bandel karena tidak mau diajak sholat. Yang masih teringat jelas di benak kita semua adalah kematian seorang guru seni musik hanya karena disebabkan oleh dendam seorang murid padanya. Memang zaman telah berubah, begitu juga cara pengajaran yang ikut dinamis sesuai latar belakang pendidikan saat ini.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi adab “ketimuran”, atau adab sopan santun. Berbeda dengan negara-negara barat lainnya yang justru membebaskan pelbagai perilaku individu. Tetapi, perlu digaris bawahi supremasi tertinggi manusia adalah moral. Dengan aturan yang ketat seperti apa pun, tanpa moral, manusia tak jauh sama seperti robot.

Ilmu pengetahuan memang penting diberikan pada anak, hingga menjadikan anak tersebut cerdas dan mengetahui pelbagai bidang keilmuan yang ada. Yang menjadi perhatian, apakah dengan kepintaran atau kecerdasan menjadi tolak ukur sebagai manusia yang paling segala-galanya? Nyatanya tidak. Manusia sebagai makhluk sosial. Sebisa mungkin menjalin hubungan dengan orang lain di sekitarnya.

Dalam beberapa kasus yang sempat viral di dunia pendidikan. Tidak bisa kita menyalahkan beberapa pihak. Siapa yang patut disalahkan? Jangan memulai hal dengan kesalahan orang lain, namun berkacalah dari diri sendiri. Negara ini krisis moral sebagai pemersatu bangsa. Dewasa ini, nasib guru semakin terkatung-katung, dari perihal kesejahteraan hidup, cara pembelajaran, hingga tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang guru.

Ki Hadjar Dewantara dalam kutipannya selalu menekankan moral yaitu adab sopan santun, dalam memberikan ilmu kepada anak. Jadi, yang terpenting bukanlah bagaimana anak mendapatkan nilai tertinggi di kelas, pun demikian karakter anak perlu untuk dibangun sejak dini. Karakter luhur memang sulit diterapkan tanpa adanya lingkungan yang mendukung. Maka dari itu, sebagai seorang guru, mampu menciptakan budaya-budaya luhur pada anak.

Beberapa ulama pun mengatakan bahwa sebisa mungkin adab itu diberikan terlebih dahulu daripada ilmu. Juga dituangkan dalam Pancasila sila kedua, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Lalu, bagaimana memberikan adab kepada anak yang nakal?

Nakal atau tidaknya seorang anak, mereka masihlah anak-anak. Ibarat besi, kita masih bisa menempa untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lebih sempurna. Dengan mendidik, memberikan arahan cara bersosialisasi dengan sekitar, menghormati orang yang lebih tua, atau orang yang sudah seharusnya untuk dihormati. Dengan cara yang terbilang sederhana, yaitu bisa dengan menunduk ketika berjalan di depan guru, atau memberikan senyuman terhangat ketika bertemu dengan siapa pun. Hati yang sekeras batu, pun akan luluh jika selalu diberikan senyuman tulus dari seseorang. Itulah cara sederhana bagaimana seharusnya hubungan sosial yang harmonis terjadi antara guru dan siswa.

Boleh-boleh saja bercanda dengan guru, tapi sebagai orang tua perlu memberikan nasihat pada anak, bahwa bercanda tidak bisa dilakukan di sembarangan tempat, atau dengan cara yang sembrono. Alih-alih niat anak untuk bercanda pada gurunya, justru yang terjadi malah hilangnya adab kesopanan dari siswa kepada gurunya. Tanpa guru, dunia kita amatlah gelap. Guru sebagai pengantar anak didiknya mengejar cita-cita. Tak ada guru maka tak akan lahir sosok polisi, dokter, pengusaha, bahkan seorang presiden.

Yang jelas, dalam mengajar dan mendidik anak, tentu saja guru tidak bisa sembarangan. Perlu mengkaji beberapa anak didiknya, latar belakang, kelebihan, dan kekurangan mereka, serta ikut memahami watak dan karakter setiap anaknya. Di dunia pendidikan dasar, justru tugas guru amatlah berat, namun tak pernah sedikit pun menunjukkan keluh dan peluhnya. Di kelas rendah seperti kelas satu hingga kelas tiga. Tak jarang kita temukan anak-anak yang masih sering menangis, masih suka buang air di celana. Lalu siapakah yang membereskan semua itu? Tentu saja guru.

Dengan adab kita menjunjung tinggi kemanusiaan antara guru-murid, dan guru dengan wali murid. Untuk menciptakan dunia pendidikan yang sehat, memang dibutuhkan kepedulian dari berbagai pihak. Kita harus mendukung dan menciptakan karakter luhur demi anak. Bukan justru menyalahkan dan menyudutkan guru ataupun murid jika terdapat kekeliruan yang terjadi. Karena guru pun bukanlah sosok malaikat yang selalu benar, perlunya bantuan dan pengertian dari lingkungan sekitar. Yang pasti, guru adalah malaikat tanpa tanda jasa, menjadi lentera di jalan kegelapan. Selamat memeringati hari guru. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved