Breaking News:

Legitnya Durian Kromo Banyumas, Bedaging Tebal dengan Warna Kuning Menggoda

Nama Durian Kromo diambil dari nama penemunya, Haji Saiman Nursoim yang akrap dipanggil Mbah Kromo.

Tribun Jateng/Khoirul Muzakki
Durian Kromo Kemranjen Banyumas 

“Yang menemukan itu Pak Sarno, guru SD. Itu adalah penemuan lokal,” ujarnya.

Teknik ini pun kemudian banyak diadopsi petani dalam menanam durian agar cepat tumbuh dan berbuah, serta resisten terhadap serangan penyakit.

Hazik, petani durian asal Alasmalang, Kemranjen menjelaskan, sarakapita adalah teknik okulasi dengan menggabungkan tiga atau lebih batang tanaman unggul saat bibit durian masih berusia muda, antara 1,5 hingga 3 bulan.

Teknik okulasi ini menghasilkan durian berkaki tiga mirip perakaran tanaman bakau.

Keuntungan durian yang dikembangkan dengan teknik sarakapita ini diklaim pertumbuhannya lebih cepat.

Jika biasanya durian baru berbuah normal pada usia tujuh hingga delapan tahun, durian teknik sarakapita ini bisa memproduksi buah lebih awal, sekitar umur empat tahun.

Menurut Hazik, teknik sarakapita bisa diterapkan untuk semua jenis durian.

Di Alasmalang misalnya, puluhan jenis durian unggul berhasil dikembangkan dengan teknik ini, semisal Montong, Cani, Bawor, Petruk, dan varian durian lokal lainnya.

Untuk menjamin kualitas tanaman dan buah terjaga, petani Alasmalang memilih membudidayakan durian yang ramah bagi lingkungan.

Di antaranya melalui pemberian pupuk organik.

Cara itu diklaim mampu menghasilkan rasa buah yang lebih manis, beraroma kuat dan legit.

Budidaya organik juga membuat buah muda lebih kuat sehingga tak mudah ambrol.

Budidaya dengan sistem organik juga membuat masa produksi pohon bisa diperpanjang hingga berumur 30 hingga 50 tahun.

“Organik itu lebih manis, dan pohonnya lebih awet biasanya,” jelas dia. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved